Bagian saat ini: IMAN
Pelajaran Iman kepada Para Rasul
Makna Iman kepada Para Rasul
Iman kepada para rasul adalah pembenaran yang kokoh bahwa Allah mengutus pada setiap umat seorang rasul dari kalangan mereka untuk menyeru mereka agar beribadah hanya kepada Allah, tidak ada sekutu bagi-Nya, sebagaimana firman Allah, "Sesungguhnya Kami telah mengutus pada setiap umat seorang Rasul (yang menyerukan): 'Sembahlah Allah dan jauhilah tagut'." (QS. An-Naḥl: 36).
Kita beriman bahwa para rasul semuanya jujur dan terpercaya, saleh dan amanah, pemberi petunjuk dan terbimbing. Mereka telah menyampaikan semua misi yang Allah bebankan kepada mereka, tidak menyembunyikan, mengubah, menambah, atau mengurangi sedikit pun dari diri mereka. Sebagaimana firman Allah, "(Yaitu) orang-orang yang menyampaikan risalah-risalah Allah, mereka takut kepada-Nya dan mereka tidak merasa takut kepada seorang pun selain kepada Allah. Cukuplah Allah sebagai pembuat perhitungan." (QS. Al-Ahzāb: 39).
Manusia membutuhkan risalah ilahi yang menjelaskan syariat dan membimbing mereka kepada kebenaran dan kebaikan. Risalah adalah ruh, cahaya, dan kehidupan bagi alam. Bagaimana mungkin alam menjadi baik jika kehilangan ruh, kehidupan, dan cahaya?
Oleh karena itu, Allah menamai risalah-Nya sebagai ruh. Jika ruh tiada, kehidupan pun hilang. Allah berfirman, "Demikianlah Kami mewahyukan kepadamu (Muhammad) rūh (Al-Qur’an) dengan perintah Kami. Sebelumnya engkau tidaklah mengetahui apakah Kitab (Al-Qur’an) dan apakah iman itu, tetapi Kami menjadikannya (Al-Qur’an) cahaya yang dengannya Kami memberi petunjuk siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami." (QS. Asy-Syūrā: 52). Ini karena akal, meskipun secara umum dapat membedakan kebaikan dari keburukan, namun tidak dapat mengetahui perincian dan bagian-bagiannya. Demikian juga dengan tata cara ibadah tidak dapat diketahui kecuali melalui wahyu dan risalah.
Tidak ada jalan menuju kebahagiaan dan keberuntungan di dunia dan akhirat kecuali melalui tangan para rasul. Tidak ada jalan untuk mengetahui yang baik dan yang buruk secara tepat kecuali dari jalan mereka. Siapa pun yang berpaling dari risalah, ia akan mendapatkan kegoncangan, kesedihan, dan kesengsaraan sesuai dengan kadar penyimpangan dan berpalingnya dari risalah tersebut. Allah berfirman, "Kami berfirman, 'Turunlah kalian semuanya dari surga itu! Kemudian jika datang petunjuk-Ku kepada kalian, maka siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati. Adapun orang-orang yang kafir dan mendustakan ayat-ayat Kami, mereka itu penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.'" (QS. Al-Baqarah: 38-39).
Salah Satu Rukun Iman
Iman kepada para rasul adalah salah satu dari enam rukun iman. Allah berfirman, "Rasul telah beriman kepada Al-Qur`an yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, dan rasul-rasul-Nya. (Mereka mengatakan), 'Kami tidak membeda-bedakan seorang pun dari rasul-rasul-Nya'." (QS. Al-Baqarah: 285). Ayat ini menunjukkan kewajiban beriman kepada semua rasul tanpa membeda-bedakan. Kita tidak boleh beriman kepada sebagian rasul dan mengingkari sebagian lainnya, seperti yang dilakukan orang Yahudi dan Nasrani.
Nabi ﷺ bersabda tentang iman, "Engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir, dan engkau beriman kepada takdir yang baik dan buruk." (HR. Muslim: 8)
Ayat-Ayat dan Mukjizat Para Rasul
Allah Ta'ala menguatkan para rasul-Nya dengan berbagai dalil dan bukti yang menunjukkan kejujuran dan kenabian mereka, di antaranya adalah penguatan dengan mukjizat dan tanda-tanda yang jelas yang tidak dapat dilakukan oleh manusia, untuk menetapkan kejujuran dan membuktikan kenabian mereka. Yang dimaksud dengan mukjizat adalah hal-hal luar biasa yang Allah tampakkan melalui tangan para nabi dan rasul-Nya, yang manusia tidak mampu mendatangkan yang serupa dengannya.
Di antara mukjizat para nabi adalah:
Apa yang Tercakup dalam Iman kepada Para Rasul?
1. Beriman bahwa risalah mereka adalah kebenaran dari Allah Ta'ala, dan bahwa risalah-risalah itu sepakat dalam menyeru untuk beribadah hanya kepada Allah, tidak ada sekutu bagi-Nya.
Allah berfirman, "Sesungguhnya Kami telah mengutus pada setiap umat seorang Rasul (yang menyerukan), 'Sembahlah Allah dan jauhilah tagut'." (QS. An-Naḥl: 36).
Syariat para nabi mungkin berbeda dalam masalah furu' (cabang) terkait halal dan haram, yang sesuai dengan umat-umat tersebut, sebagaimana firman Allah, "Untuk tiap-tiap umat di antara kalian, Kami berikan syariat dan jalan yang terang." (QS. Al-Mā`idah: 48).
2. Beriman kepada semua nabi dan rasul.
Kita beriman kepada nabi-nabi yang Allah sebutkan namanya, seperti: Muhammad, Ibrahim, Musa, Isa, Nuh, Ya'qub, Yusuf, Yunus, dan lainnya. Adapun nabi-nabi yang namanya tidak kita ketahui, kita beriman kepada mereka secara umum. Siapa pun yang mengingkari risalah salah satu dari mereka, maka ia telah mengingkari semuanya.
3. Membenarkan apa yang sahih terkait berita dan mukjizat mereka.
Kita membenarkan berita dan mukjizat para rasul yang sahih dalam Al-Qur`an dan sunnah, seperti kisah terbelahnya laut untuk Musa 'alaihissalām.
4. Mengamalkan syariat Rasul yang diutus kepada kita, yaitu Rasul yang paling utama dan penutup mereka: Muhammad ﷺ.
Di antara Sifat dan Karakter Para Rasul:
1. Mereka adalah Manusia
Perbedaan mereka dengan yang lain adalah Allah mengkhususkan mereka dengan wahyu dan risalah. Allah berfirman, "Kami tidak mengutus sebelummu (Muhammad), melainkan para lelaki yang Kami beri wahyu kepada mereka." (QS. Al-Anbiyā`: 7). Allah juga berfirman, "Katakanlah (Muhammad), 'Sesungguhnya aku ini hanyalah seorang manusia seperti kalian, yang diwahyukan kepadaku bahwa: 'Sesungguhnya Tuhan kalian itu adalah Tuhan Yang Maha Esa'." (QS. Al-Kahfi: 110). Mereka tidak memiliki sifat rububiyah dan uluhiyah sedikit pun. Namun, mereka adalah manusia yang mencapai kesempurnaan fisik, dan mereka juga mencapai akhlak yang paling tinggi. Mereka adalah manusia terbaik dari segi nasab, dan mereka memiliki akal yang cerdas dan lisan yang jelas yang menjadikan mereka layak untuk memikul beban risalah dan kenabian. Allah menjadikan para rasul dari kalangan manusia agar teladan mereka berasal dari jenis mereka sendiri. Dengan demikian, mengikuti rasul serta meneladaninya tetap berada dalam kemampuan dan batas-batas kesanggupan mereka.
2. Allah Mengkhususkan Mereka dengan Risalah
Allah Azza wa Jalla mengkhususkan mereka dengan wahyu, bukan manusia lainnya, sebagaimana firman-Nya, "Allah memilih utusan-utusan-(Nya) dari malaikat dan dari manusia. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat." (QS. Al-Ḥajj: 75). Kenabian dan risalah bukanlah sesuatu yang dapat diperoleh dengan pemurnian jiwa, kecerdasan, atau logika, melainkan pilihan dan anugerah ilahi. Allah memilih dan mengistimewakan para rasul dari seluruh manusia, sebagaimana firman-Nya, "Allah lebih mengetahui di mana Dia menempatkan tugas kerasulan." (QS. Al-An'ām: 124).
3. Mereka Ma'ṣūm (Terjaga) dalam Menyampaikan Risalah dari Allah
Mereka tidak salah dalam menyampaikan risalah dari Allah, dan tidak salah dalam melaksanakan apa yang diwahyukan Allah kepada mereka.
4. Jujur
Para rasul 'alaihimussalām jujur dalam perkataan dan perbuatan mereka, sebagaimana firman Allah, "Inilah yang dijanjikan (Tuhan) Yang Maha Pemurah dan benarlah rasul-rasul-(Nya)." (QS. Yāsīn: 52).
5. Sabar
Mereka berdakwah kepada agama Allah dengan memberi kabar gembira dan peringatan, dan mereka menghadapi berbagai macam penderitaan dan kesulitan demi meninggikan kalimat Allah. Mereka bersabar dan menahan diri. Allah berfirman, "Maka bersabarlah kamu seperti sabarnya rasul-rasul yang mempunyai keteguhan hati." (QS. Al-Aḥqāf: 35).
Iman kepada rasul-rasul memiliki buah (manfaat) yang agung, di antaranya:
Allah berfirman, "Maka siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka. Sementara itu, siapa yang berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit." (QS. Ṭāha: 123-124).