Bagian saat ini: Hukum Musim Dingin
Pelajaran Refleksi Keimanan di Musim Dingin
Informasi pelajaran
Target
11,237 siswa lain yang menyelesaikan pelajaran ini
Musim dingin adalah salah satu musim dalam setahun yang telah Allah takdirkan karena hikmah yang besar.
Kata asy-syitā’ (musim dingin) disebutkan dalam Al-Qur’an hanya satu kali, yaitu dalam Surah Quraisy. Allah Ta‘ala berfirman, "Demi kebiasaan orang-orang Quraisy, yaitu kebiasaan mereka melakukan perjalanan pada musim dingin dan musim panas." [QS. Quraisy: 1–2]. Adapun riḥlat asy-syitā’ (perjalanan musim dingin) adalah perjalanan dagang kaum Quraisy pada musim dingin menuju ke Yaman. Sedangkan perjalanan musim panas mereka lakukan menuju negeri Syam.
Musim dingin berlawanan dengan musim panas, dan musim gugur serta musim semi berfungsi sebagai pemisah di antara keduanya. Oleh karena itu, beberapa ulama mengatakan bahwa satu tahun terdiri dari dua musim: musim panas dan musim dingin.
Musim Dingin sebagai Manifestasi Kekuasaan, Hikmah, dan Rahmat Allah
Musim Dingin adalah Kesempatan untuk Memanfaatkan Waktu dan Mengingat Nikmat
Allah Ta’ala berfirman, “Dialah yang menjadikan malam dan siang silih berganti bagi siapa yang ingin mengambil pelajaran atau ingin bersyukur.” [QS. Al-Furqān: 62). Umar bin Khattab raḍiyallāhu ‘anhu berkata, “Sempurnakanlah apa yang terluput darimu di malam hari pada siang harimu. Sesungguhnya Allah menjadikan malam dan siang silih berganti bagi siapa yang ingin mengambil pelajaran atau ingin bersyukur.”
Musim dingin adalah kesempatan untuk mengingat nikmat Allah berupa berbagai sebab yang memberikan kehangatan, seperti wol, alat penghangat, dan lainnya. Allah berfirman, “Dia telah menciptakan hewan ternak untuk kalian; padanya terdapat kehangatan dan berbagai manfaat, dan darinya pula kalian makan” [QS. An-Naḥl: 5]. Hak dari nikmat-nikmat ini adalah disyukuri. Allah berfirman, “(Ingatlah) ketika Tuhan kalian memaklumkan, 'Sesungguhnya jika kalian bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepada kalian, tetapi jika kalian kufur, maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.'” QS. Ibrāhīm: 7]
Dalam dahsyatnya rasa dingin terdapat pelajaran dan nasihat yang dapat kita ambil dari sabda Rasulullah ﷺ, “Neraka mengadu kepada Tuhannya seraya berkata, ‘Wahai Rabb, sebagian diriku saling memakan.’ Maka Allah mengizinkannya untuk memiliki dua hembusan: hembusan pada musim dingin dan hembusan pada musim panas. Maka itulah panas yang paling kalian rasakan, dan itulah dingin yang paling kalian rasakan dari zamharir (dingin yang sangat membeku).” (HR. Bukhari: 3260 dan Muslim: 617).
Penduduk neraka disiksa dengan dingin sebagaimana mereka disiksa dengan panas. Allah berfirman, “Mereka di dalamnya tidak merasakan kesejukan dan tidak (pula) minuman, kecuali air yang mendidih dan nanah yang sangat dingin, sebagai balasan yang setimpal.” [QS. An-Naba`: 24–26). Makna al-gassāq adalah dingin yang sangat menusuk hingga membakar karena terlalu dingin. Penduduk neraka meminta pertolongan dari panasnya, lalu diberikan angin yang sangat dingin yang memecahkan tulang-tulang karena kedinginannya, lalu mereka meminta pertolongan dari dingin itu, namun diganti dengan panasnya Jahanam. Kita memohon perlindungan kepada Allah.
Beberapa ahli ibadah berkata, "Saya tidak melihat salju turun melainkan saya teringat akan bertebarannya catatan amal pada hari perhitungan dan kebangkitan."