Bagian saat ini: IMAN
Pelajaran Memerangi Khurafat dalam Jiwa
Informasi pelajaran
Target
20,175 siswa lain yang menyelesaikan pelajaran ini
Sebelum Islam, orang-orang Arab dan bangsa-bangsa lain pada umumnya terbelenggu oleh mitos, khurafat, dan ilusi yang telah menyebar di seluruh penjuru bumi dan tidak ada satu pun bangsa yang selamat darinya. Bahkan, orang Arab pada awalnya mengklaim bahwa Al-Qur`an adalah sejenis mitos atau sihir.
Ketika Islam datang dengan cahaya dan petunjuknya, ia membebaskan akal dari cengkeraman khurafat, mitos, dan ilusi dengan syariat dan aturan yang menjamin kemurnian akal dan jiwa, serta membuat ketergantungan hanya kepada Allah semata, bukan kepada selain-Nya. Di antara hal itu adalah:
Memerangi Sihir dan Perdukunan
Islam juga mengharamkan bagi seorang Muslim untuk mendatangi para tukang sihir dan dukun, menanyakan sesuatu kepada mereka, dan meminta kesembuhan atau pemecahan masalah dari mereka. Islam menyebut orang yang melakukannya sebagai orang yang kufur terhadap apa yang diturunkan kepada Rasulullah ﷺ, karena manfaat dan mudarat ada di tangan Allah, dan tidak ada yang mengetahui hal gaib selain Dia. Nabi ﷺ bersabda, "Siapa yang mendatangi peramal atau dukun, lalu membenarkan apa yang dikatakannya, maka sungguh ia telah kufur terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad ﷺ." (HR. Al-Hakim: 15).
Manfaat dan Mudarat Ada di Tangan Allah
Siapa pun yang merenungkan keagungan makhluk-makhluk itu dan ketelitian ciptaan-Nya, dia akan mengetahui bahwa Penciptanya adalah Tuhan Yang Maha Kuasa lagi Maha Mengatur, yang kepadanya seharusnya segala jenis ibadah ditujukan, bukan kepada selain-Nya. Dialah Sang Pencipta, sementara selain-Nya adalah ciptaan. Allah berfirman, "Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah malam, siang, matahari, dan bulan. Janganlah bersujud kepada matahari dan janganlah (pula) kepada bulan, tetapi sujudlah kepada Allah Yang menciptakannya, jika kalian hanya kepada-Nya saja menyembah." (QS. Fuṣṣilat: 37).
Tidak Ada yang Mengetahui Hal Gaib dan Masa Depan Selain Allah
Bahkan makhluk terbaik dan termulia, yaitu Rasulullah ﷺ, tidak memiliki kekuatan untuk mendatangkan manfaat atau mudarat bagi dirinya sendiri, dan tidak mengetahui hal gaib dan masa depan. Lalu bagaimana dengan orang yang derajatnya di bawah beliau? Sebagaimana firman Allah, "Katakanlah, 'Aku tidak memiliki kekuasaan atas diriku sendiri untuk mendatangkan manfaat atau menolak mudarat, kecuali apa yang Allah kehendaki. Sekiranya aku mengetahui yang gaib, tentulah aku akan memperbanyak kebaikan dan aku tidak akan ditimpa mudarat. Aku hanyalah seorang pemberi peringatan dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman'." (QS. Al-A'rāf: 188).
Pengharaman Ṭīyarah dan Pesimisme
Contoh ṭīyarah: Seseorang yang merasa sial dengan perjalanannya jika ia melihat jenis burung tertentu atau mendengar suaranya di awal perjalanannya, bahkan mungkin ia membatalkannya. Rasulullah ﷺ menyebut perbuatan itu sebagai syirik dan bersabda, "Ṭīyarah adalah syirik." (HR. Abu Daud: 3910, Ibnu Majah: 3538). Ini karena perbuatan tersebut bertentangan dengan keimanan yang kokoh seorang Muslim bahwa Allah adalah satu-satunya Pengatur alam semesta dan satu-satunya yang mengetahui hal gaib, bukan yang lain. Maka Islam mengharamkan pesimisme dan memperkirakan keburukan hanya karena melihat atau mendengar jenis burung atau hewan tertentu.
Sebaliknya, beliau menganjurkan optimisme, memilih kata-kata yang menunjukkan keoptimisan, mengharapkan kebaikan, dan berprasangka baik kepada Allah. Nabi ﷺ bersabda, "Aku suka al-fa'l: perkataan yang baik, perkataan yang indah." (HR. Bukhari: 5776, Muslim: 2224).