Lanjutkan belajar

Anda belum masuk!
Daftar sekarang di PLATFORM TAA untuk mulai belajar, melacak perkembangan Anda, mengumpulkan poin, dan mengikuti kompetisi. Setelah mendaftar, Anda akan menerima sertifikat elektronik untuk topik yang sudah Anda pelajari.

Bagian saat ini: Ibadah

Pelajaran Hakikat Ibadah

Ibadah memiliki kedudukan yang agung dalam agama Islam. Pelajaran ini akan membahas maknanya, hakikatnya, rukunnya, dan hikmah dari keberagaman ibadah.

  • Memahami makna dan hakikat ibadah.
  • Mengetahui rukun dan jenis-jenisnya.
  • Memahami sebagian hikmah dari keberagaman ibadah.

Makna Ibadah

Ibadah adalah istilah yang mencakup semua yang Allah Ta'ala cintai dan ridai dari perkataan dan perbuatan, baik yang batin maupun yang tampak. Semua perbuatan dan perkataan yang Allah cintai dianggap sebagai ibadah.

Hakikat Ibadah

Ibadah adalah: ketaatan mutlak yang disertai dengan cinta, pengagungan, dan ketundukan. Ia adalah hak Allah atas hamba-hamba-Nya, yang hanya diperuntukkan bagi-Nya. Ibadah mencakup segala sesuatu yang Allah cintai dan ridai dari perkataan dan perbuatan yang Dia perintahkan dan anjurkan kepada manusia, baik itu amal yang tampak seperti salat, zakat, dan haji, maupun amal batin seperti zikir hati, rasa takut kepada Allah, tawakal kepada-Nya, meminta pertolongan kepada-Nya, dan lain-lain.

Di antara rahmat Allah kepada hamba-hamba-Nya adalah Dia membuat ibadah beragam, di antaranya:

١
Ibadah hati: Seperti cinta kepada Allah, takut kepada-Nya, dan tawakal kepada-Nya. Ini adalah ibadah yang paling mulia dan paling utama.
٢
Ibadah fisik: Ada yang khusus dengan lisan, seperti zikir kepada Allah, membaca Al-Qur`an, dan perkataan yang baik. Ada juga yang khusus dengan anggota tubuh lainnya, seperti wudhu, puasa, salat, dan menyingkirkan gangguan dari jalan.
٣
Ibadah finansial: seperti zakat, sedekah, dan infak (belanja) di jalan kebaikan.
٤
Di antaranya ada yang menggabungkan semua itu, seperti haji dan umrah.

Hikmah dari beragamnya ibadah

Salah satu hikmah Allah Ta'ala adalah menjadikan ibadah beragam dan berlipat ganda, sehingga manusia merasa aktif dan bersemangat dalam beribadah, tidak bosan atau jenuh, dan juga agar manusia melakukan ibadah yang membuatnya merasa bersemangat.

Sebagaimana ibadah itu beragam, manusia juga beragam dalam kecenderungan dan kemampuan mereka. Sebagian dari mereka merasa aktif dan sungguh-sungguh dalam satu ibadah lebih daripada yang lain. Mungkin berbuat baik kepada orang lain dicintai oleh seseorang daripada ibadah lainnya, sementara orang yang lain dipermudah untuk memperbanyak puasa sunah, dan orang ketiga hatinya terpaut pada membaca dan menghafal Al-Qur`an.

Rasulullah ﷺ bersabda, "Orang dari ahli salat, ia akan dipanggil (yaitu: untuk masuk surga) dari pintu salat, dan orang dari ahli jihad, ia akan dipanggil dari pintu jihad, orang dari ahli sedekah, ia akan dipanggil dari pintu sedekah, dan orang dari ahli puasa, ia akan dipanggil dari pintu Ar-Rayyan." Abu Bakar As-Siddiq berkata, "Wahai Rasulullah, tidak masalah bagi seseorang yang dipanggil dari pintu-pintu itu, apakah ada seseorang yang dipanggil dari semua pintu itu?" Rasulullah ﷺ menjawab: "Ya, dan aku berharap kamu termasuk di antara mereka." (HR. Bukhari: 1897, Muslim: 1027).

Ibadah Mencakup Semua Aspek Kehidupan

Ibadah mencakup semua perilaku orang mukmin jika diniatkan untuk mendekatkan diri kepada Allah Ta'ala. Ibadah dalam Islam tidak terbatas pada ritual ibadah yang dikenal seperti salat dan puasa, tetapi semua perbuatan yang bermanfaat dengan niat yang baik dan tujuan yang benar menjadi ibadah yang mendatangkan pahala. Jika seorang Muslim makan, minum, atau tidur dengan tujuan menguatkan diri untuk taat kepada Allah Ta'ala; ia akan mendapatkan pahala atas hal itu.

Seorang Muslim menjalani seluruh hidupnya untuk Allah, ia makan untuk menguatkan dirinya dalam ketaatan kepada Allah sehingga makannya dengan niat ini menjadi ibadah. Ia menikah untuk menjaga dirinya dari hal-hal yang haram sehingga pernikahannya menjadi ibadah, dan dengan niat yang sama, perdagangannya, pekerjaannya, dan usahanya mencari uang menjadi ibadah, demikian juga mencari ilmu dan ijazah, penelitian dan penemuan serta inovasinya menjadi ibadah. Tindakan seorang wanita mengurus keperluan suaminya, anak-anaknya, dan rumahnya menjadi ibadah. Demikian juga semua aspek kehidupan, pekerjaan dan urusannya yang bermanfaat, selama semuanya itu disertai dengan niat yang baik dan tujuan yang luhur.

Ibadah adalah hikmah dari penciptaan

Allah Ta'ala berfirman, "Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku. Aku tidak menghendaki rezeki sedikitpun dari mereka dan Aku tidak menghendaki agar mereka memberi makan kepada-Ku. Sungguh, Allah, Dialah Pemberi rezeki Yang mempunyai kekuatan lagi sangat kokoh. (QS. Aż-Żāriyāt: 56-58).

Allah Ta'ala mengabarkan bahwa hikmah dari penciptaan jin dan manusia adalah agar mereka melakukan ibadah kepada Allah, dan Allah Ta'ala Maha Kaya dari ibadah mereka, justru merekalah yang membutuhkan ibadah kepada-Nya, karena kefakiran mereka kepada Allah Ta'ala.

Jika manusia mengabaikan tujuan tersebut dan tenggelam dalam kesenangan dunia tanpa mengingat hikmah ilahi dari keberadaannya, ia akan berubah menjadi makhluk yang tidak memiliki keistimewaan dibandingkan makhluk lain di planet ini, karena hewan juga makan dan bermain-main, meskipun mereka tidak dihisab di akhirat, berbeda dengan manusia. Allah Ta'ala telah berfirman, "Orang-orang kufur itu bersenang-senang dan makan sebagaimana hewan ternak makan, dan neraka adalah tempat tinggal bagi mereka." (QS. Muḥammad: 12). Mereka menyerupai hewan dalam perbuatan dan tujuan mereka, tetapi mereka akan mendapatkan balasan atas hal itu, karena mereka memiliki akal yang dengannya mereka dapat memahami dan menyadari, berbeda dengan hewan yang tidak berakal.

Rukun-Rukun Ibadah

Ibadah yang diperintahkan oleh Allah didasarkan pada tiga rukun penting, yang masing-masing saling melengkapi.

Rukun-Rukun Ibadah

١
Cinta kepada Allah
٢
Kerendahan diri dan takut kepada-Nya
٣
Harapan dan berprasangka baik kepada-Nya

Ibadah yang Allah wajibkan kepada hamba-hamba-Nya harus mengandung kerendahan diri dan ketundukan yang sempurna kepada Allah dan rasa takut kepada-Nya, disertai dengan kesempurnaan cinta, puncak dari cinta, dan keinginan serta harapan kepada-Nya.

Berdasarkan hal ini, cinta yang tidak disertai dengan rasa takut dan kerendahan diri -seperti cinta pada makanan dan harta- bukanlah ibadah. Demikian pula rasa takut tanpa cinta -seperti rasa takut pada binatang buas dan penguasa yang zalim- tidak dianggap sebagai ibadah. Jadi, jika rasa takut, cinta, dan harapan berkumpul dalam suatu perbuatan, maka itu adalah ibadah, dan ibadah tidak boleh kecuali hanya kepada Allah semata.

Jika seorang Muslim salat atau berpuasa dan pendorongnya adalah cinta kepada Allah dan harapan akan pahala-Nya, serta rasa takut akan siksa-Nya, maka itu adalah ibadah. Sedangkan jika ia salat agar tidak dikatakan tidak salat, atau berpuasa dengan tujuan menjaga kesehatannya, maka itu bukanlah ibadah.

Allah Ta'ala memuji para nabi-Nya dengan berfirman, "Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) kebaikan dan mereka berdoa kepada Kami dengan penuh harap dan rasa takut, dan mereka adalah orang-orang yang khusyuk kepada Kami." (QS. Al-Anbiyā`: 90).

Jenis-Jenis Ibadah:

١
Ibadah murni
٢
Sesuatu yang menjadi ibadah karena niat

1- Ibadah Murni

Yaitu apa yang diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya untuk dilakukan dengan cara tertentu, dan tidak mungkin menjadi sesuatu selain ibadah, seperti: salat dan puasa, haji dan doa, tawaf, dan sebagainya. Ibadah-ibadah ini tidak boleh dipersembahkan kepada selain Allah, dan tidak boleh meminta balasannya kepada selain-Nya.

2- Sesuatu yang menjadi ibadah karena niat.

Di antaranya adalah akhlak mulia yang diperintahkan Allah atau dianjurkan kepada manusia, seperti berbakti kepada orang tua, berbuat baik kepada manusia, dan menolong orang yang terzalimi, serta kebiasaan dan akhlak mulia lainnya yang diperintahkan Allah secara umum dan seorang Muslim berdosa jika meninggalkannya. Tidak disyaratkan dalam jenis ibadah ini untuk mengikuti Nabi ﷺ secara detail, cukup dengan tidak melanggar dan tidak jatuh pada hal-hal yang diharamkan.

Perbuatan-perbuatan ini, jika pelakunya memperbaiki niatnya dan bermaksud dengannya untuk mencapai ketaatan kepada Allah, ia akan mendapatkan pahala. Jika dilakukan tanpa niat karena Allah, pelakunya tidak akan mendapatkan pahala, tetapi ia tidak berdosa. Di antara ibadah-ibadah ini adalah urusan kehidupan duniawi seperti tidur, bekerja, berdagang, berolahraga, dan sejenisnya. Setiap perbuatan yang bermanfaat yang diniatkan karena Allah Ta'ala, pelakunya akan mendapatkan pahala, "Sesungguhnya Kami tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik." (QS. Al-Kahfi: 30).

Ada dua syarat untuk keabsahan dan diterimanya ibadah:

١
Mengikhlaskan ibadah hanya untuk Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya.
٢
Kesesuaian dan mengikuti sunah Rasulullah ﷺ.

Allah Ta'ala berfirman, "Maka siapa yang mengharapkan pertemuan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia menyekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Tuhannya." (QS. Al-Kahfi: 110).

Maka firman-Nya: "dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Tuhannya" menunjukkan keikhlasan ibadah hanya kepada Allah tanpa selain-Nya. Sementara firman-Nya: "amal yang saleh" menunjukkan mengikuti sunah; karena amal yang saleh adalah yang benar, dan amal tidak akan benar sampai ia sesuai dengan sunah Nabi ﷺ. Maka siapa yang menghendaki Allah dan kehidupan akhirat, hendaklah ia beribadah kepada Allah sesuai dengan dua syarat yang disebutkan dalam ayat ini.

Anda sudah menyelesaikan pelajaran dengan sukses


Mulai ujian