Lanjutkan belajar

Anda belum masuk!
Daftar sekarang di PLATFORM TAA untuk mulai belajar, melacak perkembangan Anda, mengumpulkan poin, dan mengikuti kompetisi. Setelah mendaftar, Anda akan menerima sertifikat elektronik untuk topik yang sudah Anda pelajari.

Bagian saat ini: IMAN

Pelajaran Iman kepada Muhammad ﷺ

Dengan diutusnya Nabi kita Muhammad ﷺ, semua pintu menuju Allah Azza wa Jalla tertutup kecuali melalui beliau. Tidak ada lagi keimanan yang diterima dari siapa pun sampai ia beriman kepada beliau dan apa yang beliau bawa dari Tuhannya.

  • Memahami beberapa hal yang wajib kita lakukan terhadap Nabi kita Muhammad ﷺ.
  • Memahami karakteristik risalah Muhammad.
  • Memahami kewajiban kita terhadap para sahabat Nabi ﷺ dan keluarga beliau yang mulia.

Di antara kewajiban kita terhadap Nabi kita Muhammad ﷺ adalah:

1. Beriman bahwa Muhammad ﷺ adalah hamba dan utusan Allah. Beliau adalah pemimpin manusia pertama dan terakhir, dan penutup para nabi, tidak ada nabi setelahnya. Beliau telah menyampaikan risalah, menunaikan amanah, menasihati umat, dan berjihad di jalan Allah dengan sebenar-benar jihad.

2. Membenarkan apa yang beliau beritakan, menaati apa yang beliau perintahkan, menjauhi apa yang beliau larang, dan beribadah kepada Allah sesuai dengan sunnahnya ﷺ, serta meneladaninya, bukan yang lain. Allah berfirman, "Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak berzikir kepada Allah." (QS. Al-Ahzāb: 21).

3. Kita harus mendahulukan cinta kepada Nabi ﷺ daripada cinta kepada orang tua, anak dan seluruh manusia. Nabi ﷺ bersabda, "Tidaklah beriman (secara sempurna) salah seorang di antara kalian sampai aku lebih dia cintai daripada orang tuanya, anaknya, dan seluruh manusia." (HR. Bukhari: 15, Muslim: 44). Cinta yang tulus kepada beliau adalah dengan mengikuti sunnahnya dan meneladan petunjuknya. Kebahagiaan sejati dan petunjuk yang sempurna tidak akan terwujud kecuali dengan ketaatan kepadanya. Allah berfirman, "Jika kalian menaatinya, niscaya kalian akan mendapat petunjuk. Tidak ada kewajiban atas Rasul selain menyampaikan (agama) dengan jelas." (QS. An-Nūr: 54).

4. Kita wajib menerima apa yang dibawa oleh Nabi ﷺ, patuh pada sunnahnya, dan mengagungkan petunjuknya, sebagaimana firman Allah, "Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya." (QS. An-Nisā`: 65).

5. Kita harus berhati-hati dari melanggar perintahnya ﷺ, karena melanggar perintahnya adalah sebab timbulnya fitnah, kesesatan, dan azab yang pedih. Allah berfirman, "Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintahnya takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih." (QS. An-Nūr: 63).

Karakteristik Risalah Muhammad

Risalah Muhammad memiliki beberapa karakteristik dan keistimewaan yang membedakannya dari risalah-risalah sebelumnya, di antaranya:

1. Risalah Muhammad adalah penutup bagi risalah-risalah sebelumnya, sebagaimana firman Allah, "Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kalian, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup para Nabi." (QS. Al-Ahzāb: 40).

2. Risalah Muhammad menghapus syariat-syariat sebelumnya, sehingga Allah tidak lagi menerima agama dari siapa pun setelah diutusnya Nabi ﷺ kecuali dengan mengikuti Muhammad ﷺ. Tidak ada orang yang akan masuk surga kecuali melalui jalannya. Beliau adalah rasul yang paling mulia, umatnya adalah umat terbaik, dan syariatnya adalah syariat yang paling sempurna. Allah berfirman, "Siapa yang mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) darinya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi." (QS. Āli 'Imrān: 85). Nabi ﷺ bersabda, "Demi Zat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, tidak ada seorang pun dari umat ini, baik Yahudi maupun Nasrani, yang mendengar tentangku, lalu ia meninggal dan tidak beriman kepada apa yang aku diutus dengannya, melainkan ia termasuk penghuni neraka." (HR. Muslim: 153, Ahmad: 8609).

3. Risalah Muhammad bersifat umum untuk dua jenis makhluk: jin dan manusia. Allah berfirman menceritakan perkataan jin, "Wahai kaum kami, terimalah (seruan) orang yang menyeru kepada Allah." (QS. Al-Aḥqāf: 31). Allah juga berfirman, "Kami tidak mengutusmu, melainkan kepada seluruh umat manusia sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan." (QS. Saba: 28). Nabi ﷺ bersabda, "Aku diberi keutamaan atas para nabi dengan enam hal: aku diberi jawāmi'ul-kalim (perkataan yang singkat namun maknanya luas), aku ditolong dengan rasa takut (yang ditimpakan pada musuh), dihalalkan bagiku ganimah (harta rampasan perang), dijadikan bumi sebagai tempat suci dan masjid bagiku, aku diutus kepada seluruh makhluk, dan para nabi ditutup denganku." (HR. Bukhari: 2977, Muslim: 523).

Para Sahabat Rasulullah dan Keluarga Beliau yang Mulia

Allah tidak mengutus seorang nabi pun melainkan para sahabat dan pengikutnya adalah umatnya yang terbaik, dan generasi mereka adalah generasi yang paling agung dari umatnya. Allah memilih untuk menemani Nabi-Nya makhluk terbaik setelah para nabi dan rasul, agar mereka membawa agama ini dan menyampaikannya kepada manusia dalam keadaan murni dan bersih dari kotoran. Nabi ﷺ bersabda, "Sebaik-baik umatku adalah generasi di mana aku diutus di tengah-tengah mereka, kemudian generasi setelah mereka." (HR. Muslim: 2534).

Definisi Sahabat

Sahabat adalah: siapa pun yang bertemu dengan Nabi ﷺ dalam keadaan beriman dan meninggal dalam keadaan tersebut, tanpa murtad setelah wafatnya Nabi ﷺ.

Pujian terhadap para sahabat Rasulullah ﷺ dan penyebutan sifat-sifat serta keutamaan mereka disebutkan di banyak tempat dalam kitab Allah dan sunnah Rasul-Nya ﷺ, di antaranya:

١
Allah Ta'ala memuji para sahabat, meridai, dan menjanjikan kebaikan untuk mereka. Allah Ta'ala berfirman, "Orang-orang yang terdahulu lagi pertama-tama (masuk Islam) dari kalangan Muhajirin dan Ansar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah rida kepada mereka dan mereka pun rida kepada Allah, dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang agung." (QS. At-Taubah: 100).
٢
Nabi ﷺ memuji mereka bahwa mereka adalah manusia terbaik di antara semua umat, dan mereka adalah orang-orang pilihan dari umat ini. Abdullah bin Mas'ud raḍiyallāhu 'anhu meriwayatkan bahwa Nabi ﷺ bersabda, "Sebaik-baik umatku adalah generasi di mana aku diutus di tengah-tengah mereka, kemudian generasi setelah mereka." (HR. Bukhari: 2652, Muslim: 2533).
٣
Nabi ﷺ menjelaskan bahwa pahala dan amal mereka dilipatgandakan. Abu Sa'id Al-Khudri raḍiyallāhu 'anhu berkata, Nabi ﷺ bersabda, "Janganlah kalian mencela sahabat-sahabatku. Seandainya salah seorang dari kalian menginfakkan emas sebesar gunung Uhud, niscaya itu tidak akan mencapai satu mud (dua telapak tangan penuh) mereka, bahkan tidak setengahnya." (HR. Bukhari: 3673).

Beberapa kewajiban seorang Muslim terhadap para sahabat:

Kewajiban Kita Terhadap Para Sahabat raḍiyallāhu 'anhum

1. Mencintai, Menghormati, dan Mendoakan Mereka

Allah memuji kaum Muhajirin yang meninggalkan rumah dan harta mereka di Makkah demi agama mereka dan mencari rida Allah. Kemudian Allah memuji kaum Ansar penduduk Madinah, yang menolong saudara-saudara mereka dan berbagi harta yang mereka miliki. Bahkan mereka mendahulukan saudara-saudara mereka daripada diri mereka sendiri. Lalu, Allah memuji orang-orang yang datang setelah mereka hingga hari kiamat, yaitu orang-orang yang mengetahui keutamaan dan kedudukan para sahabat, mencintai mereka, mendoakan mereka, dan tidak memiliki kebencian atau permusuhan terhadap salah seorang dari mereka di dalam hatinya.

Allah berfirman, "(Harta rampasan itu juga) untuk orang-orang fakir yang berhijrah yang diusir dari kampung halamannya dan meninggalkan harta bendanya demi mencari karunia dari Allah dan keridaan(-Nya) dan (demi) menolong (agama) Allah dan Rasul-Nya. Mereka itulah orang-orang yang benar. Dan orang-orang (Ansar) yang telah menempati Kota Madinah dan telah beriman sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah ke tempat mereka. Dan mereka tidak menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (Muhajirin) atas diri mereka sendiri, meskipun mereka juga memerlukan. Dan siapa yang dijaga dari kekikiran dirinya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung. Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Ansar), mereka berdoa, 'Ya Tuhan kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau tanamkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman. Ya Tuhan kami, sungguh, Engkau Maha Penyantun, Maha Penyayang.'"(QS. Al-Hasyr: 8-10).

2. Meridai Semua Sahabat raḍiyallāhu 'anhum:

Seharusnya seorang Muslim, jika menyebut salah satu dari mereka, mengatakan "raḍiyallāhu 'anhu" (Semoga Allah meridai-Nya). Allah mengabarkan bahwa Dia meridai mereka dan menerima ketaatan serta amal mereka, dan bahwa mereka rida kepada-Nya atas nikmat agama dan dunia yang Dia berikan. Allah berfirman, "Orang-orang yang terdahulu lagi pertama-tama (masuk Islam) dari kalangan Muhajirin dan Ansar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah rida kepada mereka dan mereka pun rida kepada Allah, dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang agung." (QS. At-Taubah: 100).

Kedudukan Para Sahabat:

1. Semua sahabat Rasulullah adalah orang-orang yang memiliki keutamaan dan berbuat baik, tetapi yang paling utama adalah empat Khulafa'ur Rasyidin, yaitu: Abu Bakar Ash-Shiddiq, Umar bin Al-Khaththab, Utsman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib raḍiyallāhu 'anhum ajma'in.

2. Sahabat Rasulullah ﷺ adalah manusia biasa, tidak ma'sum (terjaga dari kesalahan) dan bisa melakukan kesalahan. Namun, kesalahan mereka lebih sedikit dari kesalahan orang lain, dan kebenaran mereka lebih banyak dari kebenaran orang lain. Allah memilih manusia terbaik untuk menemani Nabi-Nya demi membawa agama ini, "Sebaik-baik umatku adalah generasi di mana aku diutus di tengah-tengah mereka, kemudian generasi setelah mereka." (HR. Muslim: 2534).

3. Kita bersaksi bahwa semua sahabat yang mulia adalah adil dan berbuat baik. Kita menyebutkan kebaikan mereka dan tidak membahas kesalahan atau ijtihad mereka yang keliru, karena keimanan mereka yang tulus, amal yang baik, dan ketaatan mereka jauh melebihi hal itu. Nabi ﷺ bersabda, "Janganlah kalian mencela sahabat-sahabatku. Seandainya salah seorang dari kalian menginfakkan emas sebesar gunung Uhud, tidak akan mencapai satu mud (dua telapak tangan penuh) mereka, bahkan tidak setengahnya." (HR. Bukhari: 3673).

Keluarga Nabi ﷺ

Keluarga Rasulullah adalah istri-istrinya, anak-anaknya, dan kerabatnya dari anak-anak pamannya: keluarga Ali, keluarga Aqil, keluarga Ja'far, dan keluarga Al-Abbas, serta keturunan mereka.

Yang terbaik di antara mereka adalah orang yang bertemu dengan Rasulullah ﷺ, seperti Ali bin Abi Thalib dan Fatimah binti Nabi ﷺ, serta putra-putra mereka: Hasan dan Husain, pemimpin pemuda-pemuda di surga, dan istri-istri Rasulullah, para ibu orang-orang beriman, seperti Khadijah binti Khuwailid dan Aisyah Ash-Shiddiqah raḍiyallāhu 'anhum ajma'in.

Allah berfirman tentang istri-istri Nabi ﷺ setelah mengarahkan mereka kepada etika dan akhlak tertinggi, "Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kalian, hai ahlul bait, dan membersihkan kalian sebersih-bersihnya." (QS. Al-Ahzāb: 33).

Mencintai Keluarga Nabi ﷺ

Seorang Muslim wajib mencintai keluarga Nabi ﷺ yang beriman dan mengikuti sunnahnya, dan menjadikan itu sebagai bagian dari cinta kepada Nabi ﷺ, dalam rangka melaksanakan hadis Rasulullah tentang wasiat dan perhatian terhadap keluarga beliau serta akhlak yang baik kepada mereka: "Aku mengingatkan kalian kepada Allah tentang keluargaku, aku mengingatkan kalian kepada Allah tentang keluargaku, aku mengingatkan kalian kepada Allah tentang keluargaku." (HR. Muslim: 2408). Sebagaimana seorang ayah yang penyayang berkata, "Demi Allah, demi Allah, jaga hak anak-anakku."

Seorang Muslim berlepas diri dari dua golongan:

١
Golongan yang berlebihan (ghuluw) terhadap keluarga Nabi, dan mengangkat mereka ke tingkat pengultusan.
٢
Golongan yang berbuat kasar terhadap mereka, memusuhi, dan membenci mereka.

Keluarga Nabi ﷺ Tidak Ma'sum

Keluarga Nabi ﷺ sama seperti manusia lainnya. Di antara mereka ada yang Muslim dan kafir, ada yang saleh dan ada yang berbuat maksiat. Kita mencintai yang taat di antara mereka dan berharap pahala untuknya. Kita mengkhawatirkan yang bermaksiat di antara mereka dan mendoakan agar ia mendapat petunjuk. Keutamaan keluarga Nabi ﷺ tidak berarti mereka lebih utama dalam semua hal dan atas setiap orang. Manusia memiliki keutamaan yang berbeda-beda, dan bisa jadi ada orang lain yang lebih baik dan lebih mulia dari mereka.

Anda sudah menyelesaikan pelajaran dengan sukses


Mulai ujian