Bagian saat ini: IMAN
Pelajaran Iman kepada Takdir
Makna Iman kepada Takdir:
Iman kepada takdir adalah pembenaran yang kokoh bahwa semua kebaikan dan keburukan terjadi dengan ketetapan dan takdir Allah, dan bahwa Dia adalah yang Maha Berbuat apa yang Dia kehendaki. Tidak ada sesuatu pun yang terjadi kecuali dengan kehendak-Nya, dan tidak ada yang keluar dari kehendak-Nya. Tidak ada sesuatu pun di alam semesta yang keluar dari takdir-Nya, dan tidak ada yang terjadi kecuali melalui pengaturan-Nya. Meskipun demikian, Dia memerintahkan dan melarang hamba-Nya, dan menjadikan mereka memiliki pilihan atas perbuatan mereka, tidak dipaksa. Perbuatan mereka terjadi sesuai dengan kemampuan dan kehendak mereka, dan Allah adalah Pencipta mereka dan Pencipta kemampuan mereka. Dia memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki dengan rahmat-Nya, dan menyesatkan siapa yang Dia kehendaki dengan hikmah-Nya. Dia tidak ditanya tentang apa yang Dia perbuat, dan mereka yang akan ditanya (tentang perbuatan mereka).
Definisi Takdir
Takdir: adalah ketetapan Allah terhadap segala sesuatu sejak zaman azali, dan pengetahuan-Nya bahwa hal-hal itu akan terjadi pada waktu yang telah ditentukan dan dengan sifat-sifat tertentu, serta penulisan-Nya atas hal itu, kehendak-Nya, penciptaan-Nya, dan terjadinya hal-hal itu sesuai dengan apa yang telah Dia takdirkan.
Iman kepada takdir Allah Ta'ala adalah wajib dan merupakan salah satu rukun iman, sebagaimana disebutkan dalam jawaban Rasulullah ﷺ ketika Jibril 'alaihissalām bertanya kepada beliau tentang iman, beliau menjawab, "Engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir, dan engkau beriman kepada takdir yang baik dan buruk." (HR. Muslim: 8).
Apa Saja Cakupan Iman kepada Takdir?
Iman kepada takdir mencakup empat hal:
1. Pengetahuan (Al-'Ilm)
Beriman bahwa Allah Ta'ala mengetahui segala sesuatu, baik secara umum maupun terperinci. Dia telah mengetahui semua makhluk-Nya sebelum Dia menciptakan mereka, Dia mengetahui rezeki, ajal, perkataan, dan perbuatan mereka, serta semua gerakan dan diam mereka, rahasia dan hal-hal yang mereka tampakkan, dan siapa yang termasuk penghuni surga serta siapa yang termasuk penghuni neraka. Allah berfirman, "Dialah Allah Yang tiada tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Yang Mengetahui yang gaib dan yang tampak." (QS. Al-Hasyr: 22).
2. Penulisan (Al-Kitābah)
Beriman bahwa Allah telah menulis semua yang Dia ketahui di Loh Mahfuz. Dalilnya adalah firman Allah, "Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada diri kalian sendiri melainkan telah tertulis dalam Kitab (Loh Mahfuz) sebelum Kami menciptakannya." (QS. Al-Hadid: 23). Juga sabda Nabi ﷺ, "Allah telah menulis takdir semua makhluk lima puluh ribu tahun sebelum Dia menciptakan langit dan bumi." (HR. Muslim: 2653).
3. Kehendak (Al-Masyī'ah)
Beriman kepada kehendak Allah yang Maha Berkuasa, tidak ada yang dapat menolaknya, dan kekuasaan-Nya yang tidak ada yang dapat melemahkannya. Semua peristiwa terjadi dengan kehendak dan kekuasaan Allah. Apa yang Dia kehendaki pasti terjadi, dan apa yang tidak Dia kehendaki pasti tidak akan terjadi. Allah berfirman, "Dan kalian tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu), kecuali apabila Allah menghendakinya." (QS. At-Takwīr: 29).
4. Penciptaan (Al-Khalq)
Beriman bahwa Dia adalah satu-satunya yang mengadakan segala sesuatu, dan bahwa Dia adalah satu-satunya Pencipta. Semua yang selain Dia adalah ciptaan-Nya, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Allah Ta'ala berfirman, "Dia telah menciptakan segala sesuatu, lalu menetapkan ukuran-ukurannya dengan tepat.." (QS. Al-Furqān: 2).
Manusia Memiliki Pilihan, Kemampuan, dan Kehendak
Iman kepada takdir tidak menafikan bahwa hamba memiliki kehendak dan kemampuan atas perbuatannya yang disengaja, karena syariat dan realita menunjukkan penetapan hal itu baginya.
Adapun dalil syariatnya, Allah berfirman tentang kehendak, "Itulah hari yang hak. Maka siapa yang menghendaki (keselamatan), niscaya ia menempuh jalan kembali kepada Tuhannya." (QS. An-Naba`: 39). Allah berfirman tentang kemampuan, "Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya." (QS. Al-Baqarah: 286). Kalimat "kesanggupan" bermakna kemampuan.
Adapun dalil dari realita, maka setiap manusia tahu bahwa ia memiliki kehendak dan kemampuan yang dengannya ia melakukan sesuatu dan meninggalkan sesuatu. Ia membedakan antara apa yang terjadi dengan kehendaknya seperti berjalan, dan apa yang terjadi tanpa kehendaknya seperti gemetar dan jatuh tiba-tiba. Namun, kehendak dan kemampuan hamba terjadi dengan kehendak dan kekuasaan Allah Ta'ala, sebagaimana firman-Nya, "(Yaitu) bagi siapa di antara kalian yang mau menempuh jalan yang lurus. Dan kalian tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu), kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam." (QS. At-Takwīr: 28-29). Allah menetapkan kehendak bagi manusia, kemudian menegaskan bahwa kehendak itu termasuk dalam ruang lingkup kehendak-Nya Yang Maha Suci lagi Maha Tinggi. Juga karena seluruh alam semesta adalah milik Allah Ta'ala, maka tidak ada sesuatu pun yang terjadi di kepemilikan-Nya tanpa pengetahuan dan kehendak-Nya.
Kemampuan dan pilihan manusia adalah hal yang berkaitan dengan taklif (beban syariat), perintah, dan larangan. Maka orang yang berbuat baik akan diberi pahala karena ia memilih jalan petunjuk, dan orang yang berbuat buruk akan dihukum karena ia memilih jalan kesesatan. Allah tidak membebani kita kecuali dengan apa yang kita sanggup, dan Dia tidak menerima alasan siapa pun yang meninggalkan ibadah-Nya dengan dalih takdir.
Kemudian, sebelum melakukan maksiat, manusia tidak tahu apa yang telah Allah ketahui dan takdirkan untuknya. Allah telah memberinya kemampuan dan pilihan, serta menjelaskan jalan kebaikan dan keburukan. Jika ia berbuat maksiat, maka ia adalah yang memilih maksiat itu, lebih memilihnya daripada ketaatan. Maka ia harus menanggung hukuman atas kemaksiatannya.
Manfaat Iman kepada Takdir:
Manfaat iman kepada qada (ketetapan) dan takdir sangat agung dalam kehidupan seorang Muslim, di antaranya:
1. Iman yang Benar kepada Takdir Mendorong untuk Beramal dan Mengambil Sebab serta Mencegah dari Sikap Tawakal yang Salah
Orang-orang mukmin diperintahkan untuk mengambil sebab sambil bertawakal kepada Allah Ta'ala. Mereka beriman bahwa sebab tidak akan menghasilkan akibat kecuali dengan izin Allah, karena Allah-lah yang menciptakan sebab, dan Dia juga yang menciptakan akibat. Nabi ﷺ bersabda, "Bersungguh-sungguhlah melakukan hal yang bermanfaat bagimu, mintalah pertolongan kepada Allah, dan janganlah merasa lemah. Jika sesuatu menimpamu, janganlah berkata, 'Seandainya aku berbuat demikian, pasti akan terjadi begini dan begitu.' Akan tetapi, katakanlah, 'Ini adalah takdir Allah, apa yang Dia kehendaki, Dia perbuat.' Karena kata 'seandainya' membuka pintu perbuatan setan." (HR. Muslim: 2664). Ketika sebagian orang mengira bahwa tidak perlu beramal karena segala sesuatu sudah ditakdirkan, Nabi ﷺ menjelaskan kesalahan itu dan bersabda, "Bekerjalah, karena setiap orang akan dimudahkan untuk apa yang ia diciptakan untuknya." Kemudian beliau membaca, "Maka adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, serta membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga), maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah. ... Adapun orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup, serta mendustakan pahala yang terbaik, maka kelak Kami akan menyiapkan baginya jalan yang sulit." (QS. Al-Lail: 5-10). (HR. Bukhari: 4949, Muslim: 2647).
2. Menyadari Kedudukan Diri Sendiri
Sehingga ia tidak akan sombong dan tidak membanggakan diri, karena ia tidak mampu mengetahui takdir dan apa yang akan terjadi di masa depan. Oleh karena itu, manusia akan mengakui ketidakberdayaannya dan kebutuhannya kepada Tuhannya. Jika seseorang mendapatkan kebaikan, ia akan sombong dan bangga; sebaliknya, jika ia ditimpa keburukan dan musibah, ia akan gelisah dan sedih. Tidak ada yang dapat menyelamatkan manusia dari kesombongan dan kezaliman jika ia mendapatkan kebaikan, dan dari kegelisahan dan kesedihan jika ia ditimpa keburukan, kecuali iman kepada takdir, dan bahwa apa yang terjadi adalah ketetapan takdir, dan telah diketahui oleh Allah sebelumnya.
3. Menghilangkan Sifat Hasad
Seorang mukmin tidak akan iri kepada orang lain atas karunia yang Allah berikan kepada mereka, karena Allah-lah yang memberi rezeki dan menakdirkan hal itu bagi mereka. Ia tahu bahwa jika ia iri kepada orang lain, maka ia sedang menentang takdir dan ketetapan Allah.
4. Iman kepada Takdir Menumbuhkan Keberanian dalam Menghadapi Kesulitan
Juga menguatkan tekad, karena ia yakin bahwa ajal dan rezeki telah ditakdirkan, dan tidak ada yang akan menimpa manusia kecuali apa yang telah ditetapkan untuknya.
5. Iman kepada Takdir Menanamkan dalam Jiwa Mukmin Hakikat Keimanan yang Beragam
Ia senantiasa memohon pertolongan kepada Allah, bersandar kepada-Nya, dan bertawakal kepada-Nya, sambil tetap melakukan sebab-sebab. Ia juga senantiasa merasa butuh kepada Tuhannya, memohon pertolongan dari-Nya agar diberi keteguhan.
6. Iman kepada Takdir Menumbuhkan Ketenangan dalam Jiwa
Seorang mukmin tahu bahwa apa yang menimpanya tidak mungkin luput darinya, dan apa yang luput darinya tidak mungkin menimpanya.