Lanjutkan belajar

Anda belum masuk!
Daftar sekarang di PLATFORM TAA untuk mulai belajar, melacak perkembangan Anda, mengumpulkan poin, dan mengikuti kompetisi. Setelah mendaftar, Anda akan menerima sertifikat elektronik untuk topik yang sudah Anda pelajari.

Bagian saat ini: Haji

Pelajaran Ziarah ke Madinah Nabawiyah

Madinah Nabawiyah adalah tempat terbaik di bumi setelah Makkah. Dalam pelajaran ini, Anda akan mempelajari beberapa keutamaannya dan etika mengunjunginya.

  • Mengenal keutamaan Madinah Nabawiyah.
  • Mengenal etika ziarah ke Madinah Nabawiyah.

Keutamaan Madinah Nabawiyah

Kehormatan kota Madinah Nabawiyah yang diberkahi menjadi agung dengan hijrahnya Nabi ﷺ ke sana, bahkan ia menjadi lebih utama daripada seluruh tempat di bumi setelah Makkah Al-Mukarramah. Mengunjunginya disyariatkan kapan saja dan tidak terikat dengan kewajiban haji. Nabi ﷺ bersabda, "Tidak boleh bersusah payah melakukan perjalanan (ziarah) kecuali ke tiga masjid: Masjidilharam, masjid Rasulullah ﷺ, dan Masjid Al-Aqsa." (HR.Bukhari: 1189 dan Muslim: 1397). Kota Madinah memiliki banyak keutamaan, di antaranya:

1. Keberadaan Masjid Nabawi di dalamnya:

Hal pertama yang dilakukan oleh Nabi ﷺ ketika tiba di Madinah adalah membangun Masjid Nabawi yang menjadi pusat ilmu pengetahuan, dakwah, dan menyebarkan kebaikan di antara manusia. Masjid yang diberkahi ini memiliki keutamaan yang agung. Rasulullah ﷺ bersabda, “Shalat di masjidku ini lebih utama daripada seribu shalat di masjid manapun, kecuali Masjidilharam.” (HR Bukhari 1190, Muslim 1394).

2. Dia adalah tanah haram (suci) yang aman.

Kota tersebut telah diharamkan oleh Nabi ﷺ dengan wahyu dari Allah, sehingga di dalamnya tidak boleh ditumpahkan darah, tidak boleh dibawa senjata, tidak boleh ada seorang pun yang ditakut-takuti, tidak boleh dipotong pohon, dan lain-lain yang termasuk dalam keharamannya. Nabi ﷺ bersabda, "Tidak boleh dipotong rerumputannya, tidak boleh diburu hewan buruannya, tidak boleh dipungut barang temuannya kecuali bagi orang yang ingin mengumumkannya, tidak boleh dipotong pohonnya kecuali jika seseorang ingin memberi makan untanya, dan tidak boleh dibawa senjata di dalamnya untuk berperang." (HR. Abu Daud: 2035 dan Ahmad: 959).

3. Keberkahan dalam rezeki, buah-buahnya, dan kehidupan yang baik

Nabi ﷺ bersabda, “Ya Allah, berkahilah kami pada buah-buahan kami, berkahilah kami pada kota kami, berkahilah kami pada takaran ṣā' kami, dan berkahilah kami pada takaran mud kami. Ya Allah, sesungguhnya Ibrahim adalah hamba-Mu, kekasih-Mu, dan nabi-Mu, dan aku adalah hamba-Mu dan nabi-Mu. Sesungguhnya dia telah berdoa kepada-Mu untuk Makkah, dan aku berdoa kepada-Mu untuk Madinah dengan permohonan yang serupa dengan doanya untuk Makkah, bahkan ditambahkan yang serupa dengannya." (HR. Muslim: 1373).

4. Allah melindunginya dari wabah ta'un dan Dajjal

Rasulullah ﷺ bersabda, “Ada malaikat di pintu-pintu masuk Madinah. Wabah ta'un dan Dajjal tidak akan memasukinya.” (HR. Bukhari: 1880; Muslim: 1379)

5. Keutamaan tinggal, hidup dan mati di Madinah.

Nabi ﷺ telah menjanjikan syafaat pada hari kiamat bagi siapa saja yang bersabar menghadapi kesulitan dan kesempitan hidup di Madinah. Sa'ad bin Abi Waqqaṣ raḍiyallāhu 'anhu meriwayatkan: Rasulullah ﷺ bersabda, "Madinah lebih baik bagi mereka seandainya mereka mengetahui. Tidaklah seseorang meninggalkannya karena tidak menyukainya melainkan Allah akan menggantikan di dalamnya orang yang lebih baik daripadanya. Dan tidaklah seseorang bersabar menghadapi kesulitan dan kesusahannya melainkan aku akan menjadi pemberi syafaat atau saksi baginya pada hari kiamat." (HR. Muslim: 1363).

Rasulullah ﷺ bersabda, “Siapa yang mampu meninggal di Madinah, maka hendaklah ia meninggal di sana. Sesungguhnya aku akan memberi syafaat bagi siapa pun yang meninggal di sana.” (HR. Tirmizi: 3917 dan Ibnu Majah: 3112).

6. Madinah adalah goa keimanan, dan goa itu menyingkirkan kejahatan dan kedengkian darinya.

Keimanan akan kembali ke Madinah meskipun negeri-negeri sudah telah menyempit (penuh fitnah). Keburukan serta orang-orang jahat tidak akan menetap dan berlanjut di dalamnya. Rasulullah ﷺbersabda, "Sesungguhnya keimanan akan kembali ke Madinah sebagaimana ular kembali ke sarangnya." (HR. Bukhari: 1876ك Muslim 147). Nabi ﷺjuga bersabda, "...Demi Zat yang jiwaku berada di tangan-Nya, tidaklah seseorang keluar dari Madinah karena tidak menyukainya melainkan Allah akan menggantikan di dalamnya orang yang lebih baik daripadanya. Ketahuilah, sesungguhnya Madinah seperti ububan api (pandai besi); ia akan mengeluarkan yang buruk. Kiamat tidak akan terjadi hingga Madinah mengusir orang-orang jahatnya sebagaimana ububan api menghilangkan kotoran besi." (HR. Muslim: 1381).

7. Madinah membersihkan dosa dan kesalahan.

Zaid bin Sabit raḍiyallāhu 'anhu berkata: Rasulullah ﷺ bersabda, “Sesungguhnya Madinah itu suci dan dia menghilangkan kotoran sebagaimana api dapat menghilangkan kotoran dari perak.” (HR. Bukhari: 4589; Muslim: 1384)

Etika Ziarah ke Madinah Nabawiyah

Pengunjung Madinah harus menjaga berbagai adabnya, di antaranya:

1. Siapa pun yang ingin datang ke Madinah disyariatkan untuk menjadikan tujuan perjalanannya adalah guna menziarahi Masjid Rasul ﷺ dan berusaha sekuat tenaga menuju ke sana, bukan ke kuburan Nabi ﷺ. Ini berdasarkan sabda Nabi ﷺ, "Tidak boleh bersusah payah melakukan perjalanan (ziarah) kecuali ke tiga masjid: Masjidilharam, masjid Rasulullah ﷺ, dan Masjid Al-Aqsa." (HR.Bukhari: 1189 dan Muslim: 1397).

2. Ketika sudah sampai di masjid, dianjurkan untuk mendahulukan kaki kanan dan berdoa, "Allāhumma iftaḥ lī abwāba raḥmatika." (Artinya: Ya Allah, bukalah untukku pintu-pintu rahmat-Mu) (Muslim 713).

3. Shalat tahiyatul masjid dua rakaat. Jika shalatnya di Raudah yang mulia, maka shalatnya lebih utama.

4. Disunahkan menziarahi kubur Nabi dan kedua sahabatnya. Hendaknya ia berdiri menghadap kubur Nabi dengan penuh adab, suara yang perlahan, dan penuh ketenangan, lalu mengucapkan, "As-salāmu ‘alaika ayyuhan-nabiyyu wa raḥmatullāhi wa barakātuh, asy-hadu annaka rasūlullāhi ḥaqqan wa annaka qad ballagta ar-risālah wa addayta al-amānah wa naṣaḥta al-ummah wa jāhadata fīllāhi ḥaqqa jihādih, fa jazākallāhu ‘an ummatika afḍala mā jazā nabiyyan ‘an ummatih." (Artinya: Salam sejahtera atasmu wahai Nabi, demikian pula rahmat Allah dan keberkahan-Nya. Aku bersaksi bahwa engkau benar-benar utusan Allah, dan engkau telah menyampaikan risalah, menunaikan amanah, menasihati umat, serta telah berjuang di jalan Allah dengan sebenar-benar perjuangan. Semoga Allah membalasmu atas (jasamu terhadap) umatmu dengan balasan yang terbaik yang pernah Dia berikan kepada seorang nabi atas umatnya."

Kemudian ia melangkah ke sebelah kanannya satu atau dua langkah untuk berdiri di hadapan kubur Abu Bakar raḍiyallāhu 'anhu, lalu mengucapkan salam dan mendoakan keridaan baginya. Kemudian ia melangkah ke sebelah kanannya satu atau dua langkah untuk berdiri di hadapan kubur Umar raḍiyallāhu 'anhu, lalu mengucapkan salam dan mendoakan keridaan baginya.

5. Para jemaah Masjid Nabawi dianjurkan untuk memperbanyak shalat di Masjid Nabi ﷺ sebagaimana yang telah disebutkan dalam sabda beliau, "Shalat di masjidku ini lebih utama daripada seribu shalat di masjid manapun, kecuali Masjidilharam." (HR. Bukhari: 1190 dan Muslim: 1394).

6. Disunnahkan untuk berziarah ke Masjid Quba untuk melaksanakan shalat di sana. Ini karena keutamaannya sebagaimana disebutkan Nabi ﷺ dalam sabdanya, “Siapa yang keluar rumah hingga mendatangi masjid ini, Masjid Quba, lalu shalat di sana, maka baginya pahala umrah.” (HR. An-Nasa’i: 699).

7. Disunnahkan berziarah ke makam Baqi’ dan makam para syuhada Uhud, karena Rasulullah ﷺ sering berziarah dan mendoakan mereka. Di antara doa beliau untuk para penghuni kubur adalah: "As-salāmu ‘alaikum ahla ad-diyāri mina al-mu’minīna wa al-muslimīn, wa innā in syā’a Allāhu lalāḥiqūn, as’alu Allāha lanā wa lakumu al-‘āfiyah." (Artinya: Semoga keselamatan dilimpahkan kepada kalian wahai penghuni tempat ini dari kalangan orang-orang yang beriman dan umat Islam. Sesungguhnya, jika Allah berkehendak, kami akan menyusul kalian. Aku memohon kepada Allah untuk memberikan keselamatan kepada kami dan kepada kalian.” (HR. Muslim: 975)

8. Hendaknya seorang muslim bersemangat untuk menegakkan syariat di kota ini sesuai dengan perintah Allah, bertekad untuk menaati Allah dan Rasul-Nya ﷺ, dan sangat berhati-hati agar tidak terjerumus dalam bidah dan kemaksiatan.

9. Tidak melakukan penebangan pohon atau berburu binatang buruan di kota Madinah, karena banyak hadis yang diriwayatkan dari Rasulullah ﷺ melarang melakukan hal itu. Di antaranya adalah sabda beliau ﷺ, "Sesungguhnya Ibrahim telah mengharamkan Makkah, dan sesungguhnya aku mengharamkan Madinah di antara dua batunya yang hitam. Tidak boleh dipotong pohonnya dan tidak boleh diburu hewan buruannya.” (HR. Muslim: 1362).

10. Seorang Muslim hendaknya menyadari ketika berada di kota ini bahwa ia berada di negeri tempat cahaya memancar dan ilmu yang bermanfaat tersebar ke seluruh penjuru dunia. Oleh karena itu, ia harus bersemangat untuk menuntut ilmu syariat yang membimbingnya menuju Allah dengan basirah (ilmu yang jelas), terutama jika menuntut ilmu itu dilakukan di Masjid Nabi ﷺ. Ini berdasarkan hadis Abu Hurairah raḍiyallāhu 'anhu bahwa ia mendengar Rasulullah ﷺ bersabda, "Siapa yang masuk ke masjid kami ini untuk mempelajari kebaikan atau mengajarkannya, maka ia seperti mujahid di jalan Allah. Dan siapa yang masuk ke dalamnya bukan untuk itu, maka ia seperti orang yang melihat sesuatu yang bukan miliknya." (HR. Ahmad: 10814, dan Ibnu Hibban :87).

Anda sudah menyelesaikan pelajaran dengan sukses


Mulai ujian