Lanjutkan belajar

Anda belum masuk!
Daftar sekarang di PLATFORM TAA untuk mulai belajar, melacak perkembangan Anda, mengumpulkan poin, dan mengikuti kompetisi. Setelah mendaftar, Anda akan menerima sertifikat elektronik untuk topik yang sudah Anda pelajari.

Bagian saat ini: IMAN

Pelajaran Iman kepada Nama-nama dan Sifat-sifat Allah

Mengenal Allah Azza wa Jalla melalui nama-nama-Nya yang indah dan sifat-sifat-Nya yang luhur, serta beribadah kepada-Nya sesuai dengan konsekuensinya merupakan salah satu amal yang paling agung yang dapat menambah keimanan. Dalam pelajaran ini, Anda akan mempelajari sebagian pembahasan terkait hal tersebut.

  • Memahami Tauhid Nama dan Sifat
  • Memahami Akidah Ahlussunnah wal Jama'ah tentang Nama dan Sifat Allah
  • Memahami makna sebagian nama Allah Azza wa Jalla

Iman kepada Nama-nama dan Sifat-sifat Allah

Al-Qur`an menekankan pengenalan hamba kepada Tuhan dan Pencipta mereka, dan mengulanginya dalam banyak ayat. Karena seorang Muslim harus mengenal Tuhannya dengan nama-nama-Nya yang indah dan sifat-sifat keagungan dan keindahan yang disandang-Nya, agar ia beribadah kepada Allah dengan pengetahuan dan mengamalkan konsekuensi dari nama-nama dan sifat-sifat tersebut dalam hidup dan ibadahnya.

Seorang Muslim beriman kepada nama-nama dan sifat-sifat yang Allah tetapkan untuk diri-Nya dalam kitab-Nya atau sunnah Rasul-Nya ﷺ dengan cara yang sesuai dengan keagungan Allah Ta'ala.

Allah memiliki nama-nama yang paling baik dan sifat-sifat yang paling sempurna. Tidak ada yang serupa dengan-Nya terkait nama-nama dan sifat-sifat-Nya, sebagaimana firman Allah, "Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat." (QS. Asy-Syūra: 11). Jadi, Allah Maha Suci dari menyerupai makhluk-Nya dalam semua nama dan sifat-Nya.

"Katakanlah (wahai Muhammad), 'Serulah Allah atau serulah Ar-Raḥmān. Dengan nama yang mana saja kalian seru, Dia mempunyai nama-nama yang terbaik'." (QS. Al-Isrā`: 110)

Di sini kita akan mengulas sebagian dari nama-nama Allah Ta'ala

Ar-Raḥmān Ar-Raḥīm (Maha Pengasih lagi Maha Penyayang)

Kedua nama ini adalah yang digunakan Allah untuk mengawali surah pertama dalam kitab-Nya dan pertama kali Allah memperkenalkan diri-Nya kepada hamba-hamba-Nya. Dengan kedua nama ini pula setiap surah dalam Al-Qur`an dimulai dengan ucapan, "Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang," kecuali surah At-Taubah.

Tuhan kita telah memberi karunia dengan menetapkan rahmat (kasih sayang) pada diri-Nya, dan rahmat-Nya meliputi segala sesuatu, bahkan kasih sayang makhluk satu sama lain dan kasih sayang seorang ibu kepada anaknya serta kemudahan rezeki bagi makhluk hanyalah sebagian dari dampak rahmat Allah kepada makhluk-Nya, sebagaimana firman Allah, "Maka perhatikanlah bekas-bekas rahmat Allah, bagaimana Dia menghidupkan bumi sesudah matinya." (QS. Ar-Rūm: 50).

Diriwayatkan dari Umar bin Al-Khattab raḍiyallāhu 'anhu, "Tawanan perang dibawa kepada Nabi ﷺ. Lalu, seorang wanita dari tawanan itu sedang memeras susunya (dari payudaranya) untuk disusukan. Ketika ia menemukan seorang bayi di antara tawanan, ia segera mengambilnya, menempelkannya ke perutnya, dan menyusuinya. Nabi ﷺ bertanya kepada kami, 'Apakah kalian melihat wanita ini melemparkan anaknya ke dalam api?' Kami menjawab, 'Tidak, selama ia mampu untuk tidak melemparnya.' Nabi ﷺ bersabda, 'Sungguh, Allah lebih sayang kepada hamba-hamba-Nya daripada wanita ini kepada anaknya'." (HR. Bukhari: 5999, Muslim: 2754).

Rahmat Sang Pencipta adalah sesuatu yang lain, lebih agung dan mulia, dan ia berada di atas segala perkiraan, dugaan, atau imajinasi. Seandainya hamba mengetahui kadar rahmat Allah Azza wa Jalla, tidak ada seorang pun yang akan berputus asa dari rahmat-Nya.

Rahmat Allah ada dua jenis:

١
Rahmat untuk semua makhluk: manusia, hewan, dan benda mati. Dengan rahmat ini, mereka mendapatkan kemudahan di dunia. Sebagaimana firman Allah, mengabarkan tentang doa para malaikat-Nya, "Ya Tuhan kami, rahmat dan ilmu-Mu meliputi segala sesuatu." (QS. Gāfir: 7).
٢
Rahmat khusus bagi hamba-hamba-Nya yang beriman. Dengan rahmat ini, Dia memberi mereka taufik untuk taat, memudahkan kebaikan, dan menguatkan mereka di atasnya, serta menyempurnakan rahmat-Nya kepada mereka dengan pemaafan dan ampunan, memasukkan mereka ke surga, dan menyelamatkan mereka dari neraka. Sebagaimana firman-Nya, "Dia Maha Penyayang terhadap orang-orang yang beriman. (Ucapan) penghormatan mereka pada hari mereka menemui-Nya ialah 'Salam'; dan Dia menyediakan pahala yang mulia bagi mereka." (QS. Al-Aḥzāb: 43-44).

Nabi ﷺ bersabda, "Tidak ada seorang pun yang akan masuk surga karena amalnya." Para sahabat bertanya, "Dan Anda juga demikian, ya Rasulullah?" Beliau menjawab, "Dan aku juga tidak, kecuali jika Allah meliputiku dengan rahmat-Nya." (HR. Bukhari: 6467, Muslim: 2818).

Semakin besar ketaatan seorang hamba dan semakin dekat serta khusyuk ia kepada Tuhannya, semakin besar pula bagiannya untuk berhak mendapatkan rahmat ini. Sebagaimana firman Allah, "Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik." (QS. Al-A'rāf: 56).

As-Samī' Al-Baṣīr (Maha Mendengar lagi Maha Melihat)

Allah Maha Mendengar semua suara meskipun dari berbagai bahasa dan kebutuhan yang berbeda. Sama saja di sisi-Nya, baik perkataan yang dirahasiakan maupun yang diucapkan terang-terangan. Ketika sebagian orang bodoh mengira bahwa Allah tidak mendengar rahasia dan bisikan mereka, turunlah firman Allah Ta'ala sebagai celaan dan teguran kepada mereka, "Apakah mereka mengira bahwa Kami tidak mendengar rahasia dan bisikan-bisikan mereka? Ya, (Kami mendengarnya), dan utusan-utusan Kami (malaikat-malaikat) di sisi mereka mencatat." (QS. Az-Zukhruf: 80).

Allah melihat segala sesuatu, meskipun sangat kecil dan halus. Tidak ada yang tersembunyi bagi-Nya. Nabi Ibrahim 'alaihissalām mengingkari ayahnya yang menyembah berhala yang tidak mendengar dan tidak melihat. Beliau berkata sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur`an, "Wahai bapakku, mengapa kamu menyembah sesuatu yang tidak mendengar, tidak melihat, dan tidak dapat menolongmu sedikit pun?" (QS. Maryam: 42).

Ketika seorang hamba mengetahui bahwa Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat, tidak ada yang tersembunyi dari-Nya seberat zarrah pun di langit dan di bumi, dan bahwa Dia mengetahui rahasia dan yang lebih tersembunyi, maka hal itu akan membuahkan rasa pengawasan Allah, sehingga ia menjaga lisannya dari berbohong dan menggunjing, menjaga anggota tubuhnya dan niat hatinya dari segala sesuatu yang membuat Allah murka, dan menggunakan nikmat dan kemampuannya untuk apa yang Allah cintai dan ridai, karena Dialah yang mengawasi rahasia dan yang terang benderang, lahir dan batinnya. Oleh karena itu, Nabi ﷺ bersabda, "Ihsan adalah engkau beribadah kepada Allah seolah-olah engkau melihat-Nya. Jika engkau tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu." (HR. Bukhari: 4777, Muslim: 9).

Al-Ḥayy Al-Qayyūm (Maha Hidup lagi Maha Mengurus Makhluk-Nya)

Allah Azza wa Jalla memiliki kehidupan yang sempurna yang tidak didahului oleh ketiadaan dan tidak akan diakhiri dengan kematian atau kehancuran, serta tidak memiliki kekurangan atau aib. Tuhan kita Maha Suci dan Maha Luhur dari hal itu. Kehidupan yang meniscayakan kesempurnaan sifat-sifat-Nya, seperti ilmu, pendengaran, penglihatan, kekuasaan, kehendak, dan sifat-sifat-Nya yang lain. Siapa yang memiliki sifat-sifat ini, ia berhak disembah, rukuk kepada-Nya, dan dijadikan sandaran dalam bertawakal. Sebagaimana firman Allah, "Dan bertawakallah kepada (Allah) Yang Maha Hidup, yang tidak mati." (QS. Al-Furqān: 58).

Makna nama Allah Al-Qayyūm menunjukkan dua hal:

١
Kesempurnaan Kekayaan-Nya. Dia berdiri sendiri dan tidak membutuhkan makhluk-Nya. Sebagaimana firman-Nya, "Hai manusia, kalianlah yang membutuhkan Allah, sementara Allah Dialah Yang Maha Kaya lagi Maha Terpuji." (QS. Fāṭir: 15). Dia Maha Kaya dari makhluk-Nya dari segala sisi, tidak ada manfaat bagi-Nya dari ketaatan orang yang taat, dan tidak ada mudarat untuk-Nya dari kemaksiatan orang yang maksiat. Sebagaimana dijelaskan dalam firman-Nya, "Dan barang siapa yang berjihad, maka sesungguhnya jihadnya itu adalah untuk dirinya sendiri. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kaya dari alam semesta." (QS. Al-Ankabūt: 6). Allah juga berfirman melalui lisan Musa 'alaihissalām, "Jika kalian dan orang-orang yang ada di bumi semuanya kufur, sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kaya lagi Maha Terpuji." (QS. Ibrāhīm: 8).
٢
Kesempurnaan Kekuasaan dan Pengaturan-Nya terhadap makluk. Dialah yang mengatur makhluk-Nya dengan kekuasaan-Nya. Semua makhluk itu miskin dan membutuhkan-Nya, tidak ada yang dapat hidup tanpa-Nya walau sekejap mata. Keteraturan alam semesta dan kelangsungan hidup yang kita lihat hanyalah sebagian dari dampak sifat Al-Qayyūm-Nya. Sebagaimana firman Allah mengingkari orang-orang yang menyekutukan-Nya, "Maka apakah Tuhan yang memelihara setiap jiwa dengan apa yang diusahakannya?" (QS. Ar-Ra'd: 33). Allah juga berfirman, "Sesungguhnya Allah menahan langit dan bumi supaya tidak lenyap. Dan sungguh jika keduanya akan lenyap, tidak ada seorang pun yang dapat menahannya selain Allah." (QS. Fāṭir: 41).

Oleh karena itu, gabungan dua nama yang agung ini memiliki kedudukan khusus dalam doa dan permohonan. Salah satu doa Nabi ﷺ adalah, "Ya Ḥayyu Ya Qayyūm (Zat Yang Maha Hidup lagi Maha Mengurus ), dengan rahmat-Mu aku memohon pertolongan." (HR. Tirmizi: 3524).

Buah Iman kepada Nama-Nama dan Sifat-Sifat Allah

١
Mengenal Allah Ta'ala. Siapa yang beriman kepada nama-nama dan sifat-sifat Allah, pengetahuannya tentang Allah akan bertambah, keimanannya kepada Allah akan semakin kuat, dan tauhidnya kepada Allah akan menguat. Siapa yang mengenal nama-nama dan sifat-sifat Allah, hatinya akan dipenuhi dengan pengagungan, kecintaan, dan ketundukan kepada-Nya.
٢
Memuji Allah dengan Nama-nama-Nya yang Indah. Ini adalah salah satu bentuk zikir yang paling baik. Allah Ta'ala berfirman, "Wahai orang-orang yang beriman, berzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya." (QS. Al-Ahzāb: 41).
٣
Memohon dan berdoa kepada Allah dengan nama-nama dan sifat-Nya. Sebagaimana firman-Nya, "Dan Allah memiliki nama-nama yang baik, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut nama-nama yang baik itu." (QS. Al-A'rāf: 180). Contohnya adalah dengan mengatakan, "Wahai Zat Yang Maha Pemberi Rezeki, berilah aku rezeki. "Wahai Zat Yang Maha Penerima Tobat, terimalah tobatku, dan "Wahai Zat Yang Maha Penyayang, sayangilah aku."

Anda sudah menyelesaikan pelajaran dengan sukses


Mulai ujian