Lanjutkan belajar

Anda belum masuk!
Daftar sekarang di PLATFORM TAA untuk mulai belajar, melacak perkembangan Anda, mengumpulkan poin, dan mengikuti kompetisi. Setelah mendaftar, Anda akan menerima sertifikat elektronik untuk topik yang sudah Anda pelajari.

Bagian saat ini: Nabi ﷺ

Pelajaran Risalah Nabi Muhammad ﷺ

Allah Yang Maha Kuasa mengirimkan para rasul karena hikmah yang agung, dan menutup mereka dengan Nabi Muhammad ﷺ. Allah lebih mengutamakan beliau dibandingkan yang lainnya. Dalam pelajaran ini, Anda akan belajar tentang beberapa hikmat tersebut, dan tentang hak-hak Nabi ﷺ atas umatnya.

  • Mengetahui hikmah di balik pengutusan para rasul 'alaihimussalām.
  • Merasakan keutamaan Nabi Muhammad ﷺ dibandingkan yang lainnya.
  • Mengetahui beberapa hak Nabi Muhammad ﷺ atas umatnya.

Kebutuhan Manusia Terhadap Rasul

Hikmah Allah menghendaki Dia mengirimkan seorang pemberi peringatan kepada setiap umat, menjelaskan kepada mereka apa yang Allah turunkan kepada para hamba berupa agama dan petunjuk-Nya, yang di dalamnya terdapat kemaslahatan mereka di dunia dan di akhirat. Allah Ta'ala berfirman, "Tidak ada satu pun umat melainkan di sana telah datang seorang pemberi peringatan." [QS. Fāṭir: 24]

Sebab tidak ada jalan menuju kebahagiaan dan kesuksesan, baik di dunia maupun di akhirat, kecuali melalui tangan para Rasul. Tidak ada jalan untuk mengetahui baik dan buruk secara detail kecuali melalui mereka; dan rida Allah Ta'ala tidak dapat diraih kecuali melalui tangan mereka. Amalan, perkataan, dan akhlak yang baik tidak lain hanyalah petunjuk mereka dan apa yang mereka bawa.

Iman kepada Muhammad ﷺ Sebagai Nabi dan Rasul

Kita beriman bahwa Muhammad ﷺ adalah hamba Allah dan Rasul-Nya. Beliau adalah penghulu manusia mulai dari awal sampai akhir. Beliau adalah penutup para Nabi, tidak ada nabi lagi setelahnya. Beliau telah menyampaikan risalah, menunaikan amanah, menasihati umat, dan berjuang di jalan Allah dengan sebenar-benarnya.

Allah Ta'ala berfirman, “Muhammad adalah Rasulullah.” [QS. Al-Fatḥ: 29]

Kita wajib membenarkan apa yang beliau sampaikan, menaati apa yang beliau perintahkan, menjauhi apa yang beliau benci dan larang, beribadah kepada Allah sesuai sunnahnya, dan kita wajib meneladani beliau.

Penutup Para Rasul dan Nabi

Muhammad ﷺ adalah penutup para rasul dan nabi, dan tidak ada nabi lagi setelahnya. Risalah beliau adalah penutup semua risalah samawi sebelumnya, dan agama beliau adalah penutup semua agama.

Allah Ta'ala berfirman, “Muhammad itu bukanlah bapak dari seseorang di antara kalian, tetapi dia adalah utusan Allah dan penutup para nabi.” [QS. Al-Aḥzāb: 40].

Abu Hurairah raḍiyallāhu 'anhu meriwayatkan dari Nabi Muhammad ﷺ, beliau bersabda, “Sesungguhnya perumpamaanku dengan nabi-nabi sebelumku adalah bagaikan seorang laki-laki membangun rumah, maka ia membaguskan dan mempercantiknya kecuali satu bata dibagian sudut. Maka manusia mengelilinginya dan terkagum-kagum (melihatnya). Mereka berkata, 'Mengapa tidak dipasang bata ini?' Rasulullah bersabda, 'Akulah bata tersebut, dan aku adalah penutup para nabi.'” (HR. Bukhari: 3535)

Rasul dan Nabi Terbaik

Nabi kita Muhammad ﷺ adalah nabi terbaik, bahkan beliau merupakan makhluk yang paling utama, dan paling tinggi derajatnya di sisi Allah Ta'ala. Allah meninggikan derajatnya dan mengangkat kedudukannya. Beliau adalah makhluk yang paling afdal dan dan paling mulia di sisi Allah yang Maha Suci. Allah Ta'ala berfirman, “Allah telah menurunkan Kitab (Al-Qur`an) dan Hikmah (Sunnah) kepadamu, dan telah mengajarkan kepadamu apa yang belum engkau ketahui. Dan karunia Allah yang dilimpahkan kepadamu itu sangat besar.” [QS. An-Nisā`: 113]. Allah Ta'ala berbicara kepada Nabi Muhammad ﷺ dengan mengatakan, “Dan Kami tinggikan sebutan (nama)mu bagimu.” [QS. Asy-Syarḥ: 4]

Beliau adalah penghulu anak cucu Adam, orang pertama yang akan dibangkitkan dari kuburnya, orang pertama yang memberi syafaat, orang pertama yang diizinkan (oleh Allah untuk memberi) syafaat. Beliau adalah pemegang panji puji-pujian di hari kiamat, orang pertama yang melewati sirat (jembatan di akhirat), orang pertama yang mengetuk pintu surga, dan orang pertama yang memasukinya.

Rahmat Bagi Alam Semesta

Allah Ta'ala mengutus Nabi Muhammad sebagai rahmat bagi alam semesta, sehingga risalahnya bersifat umum bagi dua jenis makhluk: manusia dan jin. Risalahnya bersifat umum untuk seluruh umat manusia. Allah Ta'ala berfirman, “Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi alam semesta.” [QS. Al-Anbiyā`: 107]

Allah Ta'ala mengutus Nabi Muhammad sebagai rahmat bagi alam semesta, sehingga risalahnya bersifat umum bagi dua jenis makhluk: manusia dan jin. Risalahnya bersifat umum untuk seluruh umat manusia. Allah Ta'ala berfirman, “Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi alam semesta.” [QS. Al-Anbiyā`: 107]

Allah Ta'ala mengutus beliau sebagai rahmat bagi alam semesta, untuk mengeluarkan mereka dari kegelapan kemusyrikan, kekafiran, dan kebodohan, menuju cahaya ilmu, keimanan, dan tauhid, sehingga mereka dapat memperoleh ampunan dan keridaan Allah dan diselamatkan dari azab dan murka-Nya.

Kewajiban Mengimaninya dan Mengikuti Sunnahnya

Risalah Nabi Muhammad membatalkan semua risalah sebelumnya. Allah tidak akan menerima agama dari siapa pun kecuali dengan mengikuti Nabi Muhammad ﷺ. Seseorang tidak akan bisa mencapai kenikmatan surga kecuali melalui jalan beliau. Beliau adalah rasul yang paling mulia, umatnya adalah umat terbaik, dan syariatnya adalah syariat yang paling sempurna.

Allah Ta'ala berfirman, “Siapa yang mencari agama selain Islam, maka tidak akan diterima darinya, dan di akhirat dia termasuk orang yang rugi.” [QS. Āli 'Imrān: 85].

Abu Hurairah meriwayatkan dari Rasulullah ﷺ bahwa beliau bersabda, “Demi (Allah) yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, tidak ada seorang Yahudi atau pun Nasrani dari umat ini yang mendengar tentangku, lalu dia meninggal sementara dia belum beriman kepada apa yang diutus bersamaku, kecuali dia termasuk penghuni neraka.” (HR. Muslim: 153)

Beberapa Mukjizat Nabi Muhammad ﷺ yang Menunjukkan Kebenaran Risalahnya

Allah Ta'ala mendukung Nabi kita, Muhammad ﷺ, dengan beberapa mukjizat yang mengagumkan dan ayat-ayat yang mencerahkan, di dalamnya terdapat kesaksian tentang kebenaran kenabian dan risalahnya. Di antara mukjizat tersebut adalah:

Al-Qur`an Al-Karim

Ayat (mukjizat) terbesar yang diberikan kepada Rasul kita adalah Al-Qur`an Al-Karim, yang berbicara kepada jiwa dan akal. Al-Qur`an adalah mukjizat yang kekal dan abadi sampai hari kiamat, yang tidak bisa diubah atau diganti. Al-Qur`an itu merupakan mukjizat terkait bahasa dan redaksinya, mukjizat terkait syariat dan hukum-hukumnya, dan mukjizat dalam berita yang disampaikannya.

Allah Ta'ala berfirman, “Katakanlah, 'Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa (dengan) Al-Qur`an ini, mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengannya, sekali pun mereka saling membantu satu sama lain.” [QS. Al-Isrā` : 88]

Terbelahnya Bulan

Allah Ta'ala berfirman, “Saat (hari kiamat) semakin dekat, bulan pun terbelah. Dan jika mereka (orang-orang musyrikin) melihat sesuatu tanda (mukjizat), mereka berpaling dan berkata, '(Ini adalah) sihir yang terus menerus'.” [QS. Al-Qamar: 1-2]. Terbelahnya bulan ini sudah terjadi pada masa Nabi ﷺ, dan kaum Quraisy serta orang lain menyaksikannya.

Makanan yang Sedikit Menjadi Banyak di Hadapan Beliau

Sehingga semua orang yang bersamanya bisa makan dan masih ada yang berlebih. Hal ini di antaranya diriwayatkan oleh Samurah bin Jundub. Dia yang berkata, “Ketika kami bersama Nabi ﷺ, kemudian dibawakan kepadanya sebuah mangkuk berisi bubur.” (Samurah melanjutkan dengan) mengatakan, “Maka beliau makan dan orang-orang juga makan. Mereka terus makan bergantian sampai mendekati tengah hari. Sekelompok orang makan, kemudian pergi, dan datang kelompok lain menggantikan mereka.” (Musnad Ahmad: 20135)

Berita dari Beliau Tentang Hal-Hal yang Gaib

Kemudian hal itu terjadi seperti yang beliau sampaikan. Sudah banyak terjadi berita gaib yang beliau sampaikan itu, dan kita masih melihat hal-hal gaib yang beliau beritahukan itu terjadi.

Anas raḍiyallāhu 'anhu meriwayatkan bahwa Umar bin al-Khattab raḍiyallāhu 'anhu menceritakan kepada mereka tentang orang-orang Badar. Umar berkata, "Sesungguhnya Rasulullah ﷺ menunjukkan kepada kami tempat kematian orang-orang di Badar kemarin. Beliau bersabda, 'Ini adalah tempat kematian si fulan besok, Insya Allah.'" Dia (Anas melanjutkan dengan) berkata, "Maka Umar berkata, 'Demi Allah yang mengutusnya dengan membawa kebenaran, mereka (yang meninggal itu) tidak melewati batasan yang ditetapkan oleh Rasulullah ﷺ.'" (HR. Muslim: 2873)

Hak-hak Nabi Muhammad ﷺ atas Umatnya

Hak-hak Nabi Muhammad ﷺ atas umatnya sangat banyak, antara lain sebagai berikut:

1. Mengimani kenabian dan risalah beliau

Mengimani kenabian dan risalah beliau, dan meyakini bahwa risalahnya manasakhkan semua risalah sebelumnya.

2. Membenarkan beliau

Membenarkan apa yang beliau sampaikan, menaati apa yang beliau perintahkan, menjauhi apa yang beliau larang dan benci, dan tidak menyembah Allah kecuali dengan apa yang telah beliau syariatkan. Allah Ta'ala berfirman, “Apa yang diberikan Rasul kepada kalian, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagi kalian, maka tinggalkanlah.” [QS. Al-Ḥasyr: 7]

3. Menerima apa yang beliau bawa

Kita wajib menerima apa yang dibawa oleh Nabi Muhammad ﷺ, tunduk terhadap Sunnahnya, dan menjadikan bimbingannya sebagai sesuatu yang dihormati dan dimuliakan, sebagaimana firman Allah Ta'ala, “Maka demi Tuhanmu, mereka tidak beriman sebelum mereka menjadikan engkau (Muhammad) sebagai hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian tidak ada rasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang engkau berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” [QS. An-Nisā`: 65]

4. Jangan melanggar perintahnya

Kita harus berhati-hati supaya jangan sampai melanggar perintahnya, karena pelanggaran terhadap perintahnya adalah penyebab terjadinya musibah, kesesatan, dan siksa yang pedih. Allah Ta'ala berfirman, “Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul-Nya takut akan mendapat cobaan atau ditimpa azab yang pedih.” [QS. An-Nūr: 63]

5. Mengutamakan cinta kepadanya di atas cinta kepada siapapun

Kita wajib mengutamakan cinta kepada Nabi Muhammad ﷺ di atas cinta terhadap diri sendiri, orang tua, anak, dan seluruh makhluk. Anas meriwayatkan dengan mengatakan, Nabi Muhammad ﷺ bersabda, “Tidak beriman salah seorang di antara kalian hingga aku lebih dicintainya daripada bapaknya, anaknya, dan seluruh umat manusia.” (HR. Bukhari: 15). Umar bin al-Khattab raḍiyallāhu 'anhu berkata, "Wahai Rasulullah, sungguh engkau lebih aku cintai daripada segala sesuatu kecuali diriku sendiri." Maka Nabi Muhammad ﷺ bersabda, “Tidak. Demi (Allah) yang jiwaku ada di tangan-Nya, sampai aku lebih engkau cintai daripada dirimu sendiri.” Umar pun berkata kepada beliau, "Sungguh, sekarang (itu aku lakukan). Demi Allah, sungguh engkau lebih aku cintai daripada diriku sendiri." Kemudian Nabi ﷺ bersabda, “Sekarang, wahai Umar (imanmu jadi sempurna).” (HR. Bukhari: 6632)

6. Meyakini bahwa beliau telah menyampaikan risalah

Kita wajib menyakini bahwa Rasulullah ﷺ telah menyampaikan seluruh risalah, menunaikan amanah, dan menasehati umat. Tidak ada kebaikan melainkan sudah beliau tunjukkan dan motivasi umat untuk melakukannya, dan tidak ada kejahatan melainkan sudah beliau peringatkan dan larang supaya jangan sampai dilakukan. Allah ta'ala berfirman, “Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, dan telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah Aku ridai Islam sebagai agamamu.” [QS. Al-Mā`idah: 3]

Para sahabat telah menjadi saksi penyampaian beliau terhadap risalah tersebut dalam pertemuan terbesar mereka pada hari beliau menyampaikan pidato kepada mereka dalam Haji Wadak. Dalam hadis Jabir disebutkan bahwa Nabi Muhammad ﷺ bersabda, “Kalian akan ditanya tentang diriku, jadi apa yang akan kalian katakan?” Mereka berkata, “Kami bersaksi bahwa Engkau telah menyampaikan, melaksanakan, dan menasihati (kami).” Maka beliau berkata dengan jari telunjuknya sambil mengangkatnya ke arah langit dan kemudian mengarahkannya kepada orang ramai, 'Ya Allah, saksikanlah. Ya Allah, saksikanlah.' Beliau ulang sampai tiga kali." (HR. Muslim: 1218)

Anda sudah menyelesaikan pelajaran dengan sukses


Mulai ujian