Bagian saat ini: Epidemi dan Penyakit
Pelajaran Wabah adalah pelajaran dan peringatan
Informasi pelajaran
Target
9,847 siswa lain yang menyelesaikan pelajaran ini
Ujian berupa wabah termasuk takdir Allah yang menimpa manusia, baik Muslim maupun non-Muslim. Namun keadaan seorang Muslim ketika tertimpa musibah tidak sama seperti selainnya. Ia menghadapinya dengan apa yang diperintahkan Allah kepadanya berupa kesabaran serta melakukan sebab-sebab syar‘i untuk mencegahnya sebelum terjadi dan berobat ketika sudah menimpanya.
Saat merebaknya wabah yang disebabkan oleh makhluk lemah yang tidak dapat dilihat kecuali dengan mikroskop, serta menimbulkan ketakutan dan kegelisahan di hati—sebagaimana dalam pandemi Corona—terdapat bukti tentang besarnya kekuasaan Allah dan lemahnya makhluk, betapapun mereka berkembang dan memiliki teknologi. Mereka tidak keluar dari lingkup kelemahan dan ketidakmampuan manusia. Hal ini juga menunjukkan bahwa Allah Maha Kuat lagi Maha Kokoh, yang tidak ada sesuatu pun yang melemahkan-Nya di langit maupun di bumi.
Qada dan Qadar adalah Kebenaran
Kaum Muslimin meyakini bahwa segala sesuatu di alam semesta telah Allah takdirkan dan tuliskan sebelum menciptakan makhluk. Keyakinan ini membuat mereka tenang dan teguh saat terjadi ketakutan, menerima takdir Allah dengan hati yang lapang.
Mengambil Pelajaran dan Nasihat
Musibah dan UJian bagi Seorang Muslim Memiliki Beberapa Keadaan:
Di antara ibadah yang agung ketika musibah menimpa adalah ibadah berupa ketundukan, kerendahan hati, dan kepasrahan kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Juga ibadah berupa istigasah (memohon pertolongan) dan meminta kepada-Nya agar mengangkat kesempitan dan bencana. Allah berfirman, “Maka mengapa ketika datang kepada mereka azab Kami, mereka tidak merendahkan diri? Akan tetapi hati mereka telah menjadi keras, dan setan pun menjadikan indah bagi mereka apa yang selalu mereka kerjakan.” [QS. Al-An‘ām: 43]. Doa yang tulus akan dibukakan baginya pintu-pintu langit, menembus segala penghalang, melampaui jarak, dan mendekatkan hamba kepada Ar-Rahmān. Allah berfirman, “Apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia berdoa kepada-Ku.” [QS. Al-Baqarah: 186]. Wahb bin Munabbih raḥimahullāhu berkata, “Musibah itu diturunkan agar doa dapat dipanjatkan."
Di antara bentuk keangkuhan dan rasa aman dari makar Allah Ta’ala adalah meyakini bahwa kita terbebas dari musibah dan penyakit, serta menganggap bahwa ujian itu tidak ada kaitannya dengan dosa-dosa. Padahal, hal ini jelas-jelas ditegaskan dalam banyak ayat Al-Qur`an. Allah Ta’ala berfirman, “Mengapa ketika kalian ditimpa musibah (dalam perang Uhud), padahal kalian telah menimpakan dua kali lipat kepada musuh kalian (dalam perang Badar), kalian berkata, ‘Dari mana datangnya (kekalahan) ini?’ Katakanlah, ‘Itu dari (kesalahan) diri kalian sendiri.’” [QS. Āli 'Imrān: 165]. Dan firman-Nya, “Musibah apa saja yang menimpa kalian, maka itu adalah disebabkan oleh perbuatan tangan kalian sendiri. Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan kalian).” [QS. Asy-Syūra: 30].
“Allah Maha Lembut kepada hamba-hamba-Nya”
Percaya kepada Allah dan bertawakal dengan baik kepada-Nya merupakan salah satu jalan terbesar untuk melewati berbagai cobaan dan ujian. Maka hendaklah engkau yakin dengan datangnya solusi yang dekat. Tebarkanlah semangat optimisme kepada orang-orang di sekitarmu, dan jauhilah sikap panik serta pesimisme. Karena tidaklah satu kesulitan mengalahkan dua kemudahan. Allah berfirman, “Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.” (Asy-Syarḥ: 5–6).
Di antara sunnatullah yang Allah tetapkan di alam semesta adalah bahwa mengambil sebab-sebab materi yang diperbolehkan dan memungkinkan merupakan salah satu cara menolak keburukan. Para rasul dan orang-orang saleh pun melakukannya, dan hal ini termasuk bagian dari kesempurnaan tawakal kepada Allah serta pengamalan ubudiyah kepada-Nya.
Makhluk yang sangat kecil telah mengusik kenikmatan, kesenangan, rasa aman, stabilitas, dan kehidupan orang-orang dunia. Maka pantaskah orang yang berakal, apalagi seorang mukmin, menjadikan dunia sebagai tanah air abadi dan tempat menetap, merasa tenteram dengannya, saling memerangi demi mendapatkannya, dan berlomba-lomba mengejar hiasannya?
Tidak diragukan lagi bahwa virus-virus ini termasuk di antara ayat-ayat kauniyah Allah, yang dengannya Allah menakut-nakuti hamba-hamba-Nya, mendorong mereka untuk mengambil pelajaran dan ibrah, serta menghidupkan ibadah khauf (rasa takut). Allah berfirman, “Tidaklah Kami mengirimkan tanda-tanda (ayat-ayat) itu melainkan untuk menakut-nakuti.” [QS. Al-Isrā`: 59).
Menghidupkan ibadah khauf (rasa takut) terhadap ayat-ayat Allah
Waktu adalah modal utama seorang Muslim di dunia. Ia lebih berharga daripada harta dan lebih mahal dari apa pun. Ibnu Abbas raḍiyallāhu ‘anhumā meriwayatkan bahwa Nabi ﷺ bersabda, “Ada dua kenikmatan yang banyak manusia tertipu karenanya: kesehatan dan waktu luang.” (HR. Bukhari: 6412).