Lanjutkan belajar

Anda belum masuk!
Daftar sekarang di PLATFORM TAA untuk mulai belajar, melacak perkembangan Anda, mengumpulkan poin, dan mengikuti kompetisi. Setelah mendaftar, Anda akan menerima sertifikat elektronik untuk topik yang sudah Anda pelajari.

Bagian saat ini: Hadis dan Sunnah

Pelajaran Pendokumentasian Sunnah dan Kitab-Kitab Utamanya

Para ulama Islam memberikan perhatian besar terhadap pendokumentasian sunnah. Mereka menghabiskan usia mereka untuk menjaganya, membedakan yang sahih dari yang lemah, serta menjelaskan keadaan para perawi, sebuah usaha yang tidak memiliki tandingan dalam sejarah peradaban manusia. Dalam pelajaran ini Anda akan mengenal makna pendokumentasian sunnah, tahap-tahapnya, serta kitab-kitab sunnah utama yang disusun oleh para ulama.

  • Mengetahui tahap-tahap pendokumentasian sunnah Nabi.
  • Mengetahui kitab-kitab hadis Nabi yang paling menonjol.
  • Mengetahui cara untuk mengenal sahih atau daifnya sebuah hadis.

Pendokumentasian Sunnah Nabi

Para ulama Islam memberikan perhatian besar terhadap pendokumentasian sunnah, menghabiskan umur mereka untuk menjaganya, memilah yang sahih dari yang tidak, serta menjelaskan keadaan para perawinya, suatu usaha yang tidak ditemukan tandingannya dalam sejarah umat manusia.

Makna Pendokumentasian Sunnah Nabi

Yang dimaksud dengan pendokumentasian sunnah adalah penulisan dan pencatatan segala sesuatu yang berasal dari Nabi Muhammad ﷺ, baik berupa ucapan, perbuatan, maupun persetujuan, kemudian menghimpunnya dalam buku-buku dan karya-karya khusus.

Proses pendokumentasian sunnah dan penulisan hadis Nabi melalui beberapa tahapan berikut:

١
Tahap Pertama: Penulisan pada masa Nabi ﷺ dan para sahabat.
٢
Tahap Kedua: Pendokumentasian hadis pada masa akhir kehidupan para tabi‘in.
٣
Tahap Ketiga: Penyusunan sunnah dalam bentuk kitab-kitab tersusun secara sistematis.
٤
Tahap Keempat: Tahap pengkhususan penyusunan hadis Nabi ﷺ secara mandiri, menghimpun dan menatanya tanpa mencampurnya dengan selainnya.

Tahap Pertama

Penulisan hadis pada masa Nabi ﷺ dan para sahabat, yaitu pada abad pertama Hijriah. Pada awal Islam, Nabi ﷺ melarang penulisan hadis karena khawatir bercampur dengan Al-Qur`an.

Abu Sa‘id al-Khudri raḍiyallāhu 'anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, “Jangan kalian menulis sesuatu dariku. Barang siapa menulis dariku selain Al-Qur`an, maka hapuslah. Sampaikanlah dariku, dan tidak mengapa.” (HR. Muslim: 3004).

Pada masa itu, hadis-hadis Nabi ﷺ lebih banyak dihafal dan disampaikan secara lisan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Kemudian Nabi ﷺ memberikan izin kepada sebagian sahabat untuk menulis.

Abdullah bin ‘Amr raḍiyallāhu 'anhu berkata, “Aku menulis segala sesuatu yang aku dengar dari Rasulullah ﷺ untuk menghafalnya. Maka Quraisy melarangku seraya berkata, ‘Apakah engkau menulis segala sesuatu yang engkau dengar, sedangkan Rasulullah ﷺ adalah manusia yang berbicara dalam keadaan marah dan rida?’ Maka aku pun berhenti menulis. Lalu aku sampaikan hal itu kepada Rasulullah ﷺ, maka beliau menunjuk ke mulutnya dan bersabda, ‘Tulislah! Demi Zat yang jiwaku berada di tangan-Nya, tidak keluar darinya kecuali kebenaran.’” (HR. Abu Daud: 3646).

Dalam hadis Al-Walid bin Muslim dari al-Awza‘i, dari Abu Hurairah raḍiyallāhu 'anhu, ia berkata, “Ketika Allah membukakan kota Makkah bagi Rasulullah ﷺ, beliau berdiri di hadapan manusia lalu memuji Allah dan menyanjung-Nya… [Abu Hurairah menyebutkan isi khotbah]. Kemudian seorang laki-laki dari Yaman bernama Abu Syah berdiri dan berkata, ‘Tulislah untukku wahai Rasulullah.’ Maka Rasulullah ﷺ bersabda, ‘Tulislah untuk Abu Syah.’” Al-Walid berkata, “Aku bertanya kepada al-Awza‘i, "Apa maksud ucapan Abu Syah ‘Tulislah untukku’? Ia menjawab, ‘Yaitu khotbah yang ia dengar dari Rasulullah ﷺ.’” (HR. Bukhari: 2434 dan Muslim: 1355).

Tahap Kedua

Pendokumentasian hadis pada akhir masa para tabi‘in, yaitu pada abad kedua Hijriah. Penulisan pada tahap ini merupakan upaya pengumpulan sunnah secara umum meskipun belum tersusun secara sistematis. Tokoh pertama yang mendorong upaya ini adalah Khalifah Umar bin Abdul Aziz raḥimahullāhu. Beliau memerintahkan dua imam besar—Ibnu Syihab az-Zuhri dan Abu Bakr bin Hazm—untuk mengumpulkan sunnah, serta mengirim surat ke berbagai wilayah: “Perhatikanlah hadis Rasulullah, kumpulkan dan jagalah, karena aku khawatir ilmu akan lenyap dan para ulama akan meninggal."

Maka orang pertama yang menulis hadis atas perintah beliau adalah Imam az-Zuhri raḥimahullāhu. Dari sinilah dimulai proses pendokumentasian sunnah secara umum (resmi).

Tahap Ketiga

Penyusunan sunnah dalam bentuk kitab-kitab yang tersusun secara sistematis, baik berdasarkan bab-bab keilmuan seperti iman, ilmu, taharah, shalat dan sebagainya, ataupun berdasarkan metode musnad, yaitu mengelompokkan hadis berdasarkan nama sahabat, seperti Musnad Abu Bakar, Musnad Umar, dan seterusnya.

Pada tahap ini disusun Al-Muwaṭṭa’ karya Imam Malik bin Anas raḥimahullāhu. Ciri khas masa ini adalah penyusunan hadis yang teratur, namun masih bercampur dengan pendapat sahabat, tabi‘in, dan fatwa-fatwa mereka.

Tahap Keempat

Tahap pemurnian penyusunan hadis Nabi ﷺ secara khusus, yakni menghimpun dan menatanya tanpa mencampurnya dengan ucapan sahabat atau tabi‘in, kecuali sedikit untuk keperluan penjelasan. Tahap ini dimulai pada awal abad ketiga Hijriah. Karya-karya terkenal pada periode ini antara lain: Musnad Imam Ahmad, Musnad al-Humaydi, dan karya-karya musnad lainnya.

Pendokumentasian hadis mencapai puncaknya pada pertengahan abad ketiga Hijriah, ketika Imam Bukhari menyusun Sahih Bukhari dan Imam Muslim menyusun Sahih Muslim. Kemudian disusun pula kitab-kitab sunan seperti: Sunan Abu Daud, Sunan Tirmizi, Sunan Nasa`i, Sunan Ibnu Majah, Sunan Darimi, dan kitab-kitab hadis terkenal lainnya.

Kitab-kitab Sunnah yang paling penting

Di antara banyak kitab sunnah Nabi ﷺ, terdapat enam kitab yang terkenal, yaitu: Sahih Bukhari, Sahih Muslim, Sunan Abu Daud, Sunan Ibnu Majah, Sunan Nasa`i, dan Sunan Tirmizi.

Selain itu, juga dikenal kitab-kitab seperti Sunan Darimi, Musnad Imam Ahmad, dan Muwaṭṭa’ Imam Malik.

Pengenalan Enam Kitab Terkenal

Di antara kitab-kitab Sunnah yang paling masyhur dan diterima oleh umat adalah Enam Kitab, yaitu:

1. Sahih Bukhari (wafat tahun 256 H)

Kitab ini termasuk kitab al-Jawāmi‘ yang menghimpun semua hadis Rasulullah ﷺ yang diterima oleh penulisnya mengenai akidah, ibadah, muamalah, peperangan, tafsir, dan keutamaan. Imam Bukhari berpegang pada standar sahih secara ketat, sehingga kitab ini dianggap kitab paling sahih setelah Al-Qur`an.

2. Sahih Muslim (wafat tahun 261 H)

Kitab ini juga termasuk kitab al-Jawāmi‘ dan penulisnya menekankan sahih. Namun, kriteria keabsahannya lebih longgar dibandingkan Bukhari, sehingga kitab ini menempati posisi kedua setelah Sahih Bukhari.

3. Sunan Abu Daud (wafat tahun 275 H)

Ini termasuk kitab sunan yang disusun berdasarkan bab-bab fiqih. Kitab ini memuat hadis sahih dan hasan, sementara hadis da‘if hanya sedikit dimasukkan.

4. Sunan Tirmizi (wafat tahun 279 H)

Kitab ini termasuk kitab al-Jawāmi‘ yang menghimpun semua hadis Rasulullah ﷺ mengenai akidah, ibadah, muamalah, peperangan, tafsir, dan keutamaan. Tidak semua hadisnya harus sahih; di dalamnya terdapat hadis sahih, hasan, dan da‘if.

5. Sunan Nasa`i (wafat tahun 303 H)

Disusun berdasarkan bab-bab fiqih, memuat hadis sahih, hasan, dan da‘if.

6. Sunan Ibnu Majah (wafat tahun 273 H)

Juga disusun berdasarkan bab-bab fiqih, berisi hadis sahih, hasan, da‘if, dan beberapa hadis da‘if yang ditolak.

Imam Al-Hafiz Abu Al-Hajjaj Al-Mizzi (wafat tahun 742 H) berkata:

"Adapun Sunnah, maka Allah telah memudahkan bagi para penghafal, para ulama ahli, dan para pakar kritikus untuk menjaganya. Mereka menolak perubahan dari pihak yang berlebihan, pemalsuan dari orang-orang batil, serta penafsiran keliru dari orang-orang awam. Mereka pun beragam dalam pengklasifikasian dan menekuni berbagai metode pencatatan, demi menjaga sunnah dan mencegah hilangnya. Di antara yang terbaik dalam penyusunan, paling baik dalam penulisan, paling benar, paling bermanfaat, paling banyak faedahnya, paling diberkahi, paling ringan beban mempelajarinya, paling mudah diterima oleh pihak yang setuju maupun yang berbeda pendapat, dan paling mulia posisinya bagi kalangan khusus maupun umum adalah: 'Ṣaḥīḥ Abu Abdillah Muhammad bin Isma’il Al-Bukhari', kemudian 'Ṣaḥīḥ Abu Al-Husain Muslim bin Al-Hajjaj An-Naisaburi', setelah itu kitab 'Sunan' karya Abu Daud Sulaiman bin Al-Asy‘aṡ As-Sijistani, kemudian kitab 'Al-Jami‘' karya Abu ‘Isa Muhammad bin ‘Isa At-Tirmiżi, lalu kitab 'Sunan' karya Abu ‘Abdurrahman Ahmad bin Syu‘aib An-Nasa’i, dan kitab 'Sunan' karya Abu Abdullah Muhammad bin Yazid yang dikenal dengan Ibnu Majah Al-Qazwini, meskipun tidak mencapai derajat mereka."

Dan masing-masing dari "enam kitab" ini memiliki keistimewaan yang diketahui oleh para ahli di bidang ini. Kitab-kitab tersebut pun menjadi terkenal di kalangan manusia, tersebar luas di negeri-negeri Islam, dan manfaatnya begitu besar sehingga para penuntut ilmu sangat bersemangat untuk mempelajarinya." (Tahżīb al-Kamāl: 1/147)

Membedakan Hadis Sahih dan Da‘if

Seorang Muslim dapat mengetahui derajat suatu hadis, apakah shahih dan dapat diterima atau dha‘if dan ditolak, dengan merujuk kepada para ulama yang ahli dalam ilmu hadis. Mereka telah menelaah hadis dari sisi sanad dan matan, serta dari sisi diterima atau ditolaknya hadis tersebut.

Terdapat banyak kitab yang disusun dan diklasifikasikan khusus untuk hal ini. Selain itu, ada pula berbagai aplikasi dan platform elektronik terpercaya yang membantu mengenali hadis sahih dari hadis da‘if.

Beberapa aplikasi dan platform elektronik yang membantu mengetahui derajat hadis antara lain:

Ensiklopedia Hadis pada situs web Durar as-Saniyyah yang memuat ratusan ribu hadits beserta hukum-hukum para ulama hadis (pendahulu, ulama modern, dan ulama kontemporer). Dapat diakses melalui link: https://dorar.net/hadith

Anda sudah menyelesaikan pelajaran dengan sukses


Mulai ujian